Keajaiban lain Kawah Ijen itu bernama Yunani

Perjalanan Taman Nasional Baluran – Banyuwangi yang memakan waktu sekitar 2 jam cukup melelahkan dan membuat perut lapar. Kami memutuskan berhenti di warung sego tempong untuk makan malam. Sego tempong, kuliner khas Banyuwangi ini berisi sayuran seperti bayam, daun kemangi, kenikir, timun dan lauknya berupa tahu goreng, tempe goreng serta telor dadar yang saya santap dengan lahap. Lebih lengkap lagi berkat sambalnya yang pedas. Apalagi ketika perut lapar, makanan menjadi terasa lebih nikmat dari biasanya.

Perjalanan ke Paltuding, gerbang masuk Kawah Ijen

Matahari sudah kembali ke peraduannya, ketika kami kembali meninggalkan Kota Banyuwangi. Hawa semakin terasa dingin seiring jalan yang terus menanjak. Malam itu kami pergi ke Kawah Ijen untuk melihat keajaiban dunia, blue fire. Dengan menggeber sepeda motor, kami menuju Paltuding, gerbang masuk ke Kawah Ijen. Saya berboncengan dengan Mbak Rara, Faruk dengan Santi, dan Mas Gethuk bersama mionya.

Bagi kebanyakan orang, berkunjung ke Kawah Ijen berarti menyaksikan blue fire. Begitu pun dengan saya. Betapa beruntungnya negara kita memiliki salah satu dari 2 blue fire yang ada di dunia. Namun 2 kali saya ke Kawah Ijen, 2 kali juga saya gagal ke puncak dan melihat blue fire. Namun tak apa, karena Kawah Ijen nggak melulu soal blue fire. Pada kesempatan yang kedua ini, saya justru melihat keajaiban Kawah Ijen dari sisi lainnya.

Ketika kami tiba di Paltuding, suasananya sudah ramai oleh pengunjung yang juga akan mendaki. Beberapa orang sedang menghangatkan diri sambil menyeruput kopi di warung, sebagian ada yang sedang mendirikan tenda, sementara yang berduit lebih bisa tidur dengan nyaman di homestay. Saya dan Faruk tidur dengan bergelantung pada seutas hammock, sedangkan Mbak Rara, Santi dan Mas Gethuk tidur beralas matras di dalam sebuah shelter yang cukup luas.

Blue fire yang hanya dapat dilihat saat malam membuat pendakian ke Kawah Ijen baru dibuka pada dini hari. Wajar jika orang-orang pergi ke Paltuding pada sore dan malam hari supaya dapat mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum lanjut mendaki.

Mulai mendaki pada dini hari

Langit sangat cerah malam itu, tak ada awan. Cahaya bulan cukup terang untuk menerangi jalan. Kami mendaki bersama ratusan wisatawan lain. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, semua campur aduk dalam heningnya hutan.

Diantara banyaknya wisatawan, ada para penambang belerang. Mereka mendaki dengan mendorong gotrok yang digunakan untuk mengangkut belerang. Dan ternyata fungsinya bukan sekedar membawa turun belerang, melainkan bisa dijadikan jasa ojek. Bagi yang lelah atau malas mendaki, dapat menggunakan jasa Go-Trok ini untuk naik maupun turun. Tapi ingat, jangan ugal-ugalan!

bendungan kawah ijen

Pos Bunder

Gagal melihat Blue Fire

Di tengah perjalanan, musibah menimpa Santi. Ketika mendaki, kakinya terperosok ke jalan yang berlubang hingga membuat kakinya terkilir. Akibat hal tersebut kami menghentikan perjalanan dan memutuskan untuk berhenti di Pos Bunder.

Setelah istirahat beberapa saat, Santi merasa kakinya baikan. Ia mengajak untuk lanjut mendaki ke puncak. Kami membujuknya untuk turun saja, karena khawatir kakinya sakit lagi dan malah semakin parah. Namun ia tetap pada pendiriannya. Ia merasa sanggup dan ingin tetap lanjut. Karena keinginannya yang besar, Mas Gethuk lalu memberi alternatif lain.

“Yaudah, kalau gitu kita ke Yunani aja. Gimana?” ujar Mas Gethuk.

Saya, Santi dan Mbak Rara yang sebelumnya sudah diceritakan dan ditunjukkan dari foto, mengangguk setuju.

“Jalannya nggak terlalu nanjak, tapi harus nunggu terang dulu baru berangkat” tambah Mas Gethuk.

“Oke siap, Bang!” timpal saya.

bendungan kawah ijen

“Gerbang masuk”

bendungan kawah ijen

Jalur ulat!

Kami kembali mendaki setelah matahari terbit, kali ini tujuannya adalah Yunani. Tidak jauh dari Pos Bunder, Faruk yang berjalan paling depan keluar dari jalur utama (jalur ke puncak) dan masuk ke “gerbang’ menuju Yunani. Jalurnya sempit, hanya jalan setapak yang muat dilewati satu orang. Semak belukar tumbuh rimbun di sisi kanan dan kiri jalan, menandakan bahwa tidak banyak orang yang lewat.

Meski cukup jauh, tapi jalannya tidak begitu menanjak. Pemandangannya pun ciamik. Kami disuguhi panorama Gunung Raung di kejauhan. Tumbuh-tumbuhan hijau hingga yang berwarna coklat menghiasi sepanjang perjalanan. Belum lagi ada ulat yang jumlahnya sangat banyak. Serangga kecil itu sukses membuat Mbak Rara menjerit ketakutan tiap kali melihatnya, hal itu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal.

IMG_20170108_071607

Gunung Raung

bendungan kawah ijen

Harus ekstra hati-hati

IMG_20170108_081018

Melewati jembatan

Setelah 1 jam berjalan, trek berganti menjadi pasir berbatu. Medan yang sebelumnya ditumbuhi pohon dan semak yang rimbun, berubah menjadi gersang setelah melewati batas vegetasi. Dari situ pula kami dapat melihat “kawah”-nya Kawah Ijen.

Dan inilah Yunani!

Yunani, sebutan untuk bendungan Kawah Ijen. Spot yang jarang diketahui oleh wisatawan. Kalau bukan karena Faruk dan Mas Gethuk yang asli Banyuwangi, saya pun tidak akan mengetahuinya. Pemandangannya sangat memukau, saya tak sanggup mendeskripsikannya dengan kata-kata! Air kawahnya yang berwarna hijau tosca terlihat begitu kontras dengan dinding kawah yang mengelilinginya. Di seberang kami, tepatnya di bawah puncak, asap tak berhenti mengepul.

bendungan kawah ijen

Yunani

IMG_20170108_082703

Mas Gethuk dan Santi sedang menuruni tangga

IMG_20170108_082149

Mbak Rara terpukau saat melihat panorama di sana

Ketika di puncak penuh sesak oleh ratusan manusia, bersaing mencari point of view terbaik untuk mengambil gambar, di Yunani hanya ada kami berlima. Sepi. Saking tenangnya, kami sampai tertidur beberapa saat sembari diiringi lagu Payung Teduh yang berjudul Cerita Tentang Gunung dan Laut.

*   *   *

Tak bisa dipungkiri, puncak memang hanyalah bonus. Begitu juga dengan blue fire-nya Kawah Ijen. Saya kembali gagal melihatnya. Namun saya tidak kecewa, karena keajaiban Yunani pun tak ada duanya. Selalu ada hikmah dari setiap hal, termasuk juga dari sebuah rencana yang gagal. Sebab manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan yang menentukan.

Mungkin pada kesempatan berikutnya saya baru diizinkan untuk dapat menyaksikan kobaran blue fire yang tersohor itu. [ms]

bendungan kawah ijen

Tanggal dibangunnya bendungan

bendungan kawah ijen

Mas Gethuk & Faruk

IMG_20170108_081919

Inilah (kaki) saya

Share: