Keluyuran di Jakarta: Kwitang, Pasar Senen dan Glodok

Semenjak berada di Jakarta, saya berpikir bahwa tinggal di kota megapolitan seperti ini akan sulit untuk menyalurkan hobi traveling. Bagi saya yang cenderung pergi ke alam ketika hendak melakukan perjalanan, tak menemukan peluang di ibukota, yang ada hanya belantara beton dimana-mana. Kalau pun ingin, saya harus pergi ke Bogor untuk menyesap sejuknya hutan pinus atau membasuh wajah dengan segarnya air terjun. Namun untuk melakukan perjalanan Jakarta – Bogor? Hhm, sepertinya saya lebih memilih membaca buku di warung kopi.

Terperangkap dalam habitat Jakarta, saya pun mesti beradaptasi dengan segala aspek kehidupan di kota yang terkenal dengan macetnya ini, termasuk traveling. Akibat ketiadaan “alam” sebagai short escape yang biasanya saya lakukan, city explore adalah opsi paling realistis. Bukan. Saya bukan mau masuk dari satu mall ke mall lainnya maupun mengunjungi tempat wisata seperti Ancol, Dufan atau Taman Mini. Sabtu lalu, seorang diri saya menyusuri jalanan Jakarta. Melihat koleksi buku di Kwitang, berburu pakaian murah di Pasar Senen hingga mencari kuliner dengan blusukan ke gang-gang kecil di Glodok. Dari siang sampai matahari terbenam.. dan ternyata seru!

Berawal dari menonton video VICE Indonesia yang berjudul “Hingar Bingar Bawah Jembatan di Jakarta Pusat: Central” saya jadi penasaran dengan salah satu sudut di Pasar Senen. Pada video tersebut, Kelly Tandiono dan dua orang kawannya menelusuri berbagai sudut Kota Jakarta, salah satunya Pasar Senen. “Tempat Terbaik Berburu Pakaian Keren Yang Selalu Ngetren Bukanlah di Mal“, begitu judul yang dipampang pada sebuah artikel di website VICE.

Untuk membuktikannya, saya pergi ke sana pada akhir pekan. Kebetulan saya sedang butuh jaket. Meski sebenarnya saya sudah punya dua buah jaket, akan tetapi dua-duanya adalah jaket gunung, yang sangat tidak nyaman dipakai di lingkungan Jakarta. Setiap kali memakainya, saya selalu bermandikan peluh.

pasar senen

Menggelar lapak di pinggir jalan

Saya berangkat selepas tengah hari, ketika matahari telah sedikit bergeser ke barat. Incaran saya adalah pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan, tepat di depan gedung blok 3, bukan yang berada di dalam gedung. Sekitar pukul 3 sore saya sudah berada di TKP, tapi beberapa pedagang masih menyiapkan lapaknya.

Melihat koleksi buku di Kwitang

Tiba-tiba saya teringat sebuah kawasan toko buku di dekat Pasar Senen yang dulu sempat nampang di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC)-nya Rangga & Cinta, Kwitang. Sembari menunggu pedagang selesai menggelar lapaknya, saya memutuskan untuk berkunjung ke Kwitang terlebih dahulu.

Tak jauh, dengan berjalan 15 menit dari Pasar Senen saya sudah sampai di Kwitang. Saat pertama kali tiba, setelah menyebrangi jalan melalui zebra cross, saya dihadapkan pada satu toko tepat di sudut jalan. Koleksi bukunya banyak sekali, sampai-sampai memperluas lapaknya ke luar. Terlihat ada beberapa orang yang sedang melihat-lihat buku.

kwitang

Koleksi buku di salah satu toko

Ketika sedang melihat tumpukan buku, mata saya tertuju pada sebuah buku yang covernya tidak asing bagi saya, buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Buku yang kini sedang dalam proses untuk diangkat menjadi sebuah film ini oleh banyak orang sangat direkomendasikan untuk dibaca, sebab memiliki cerita yang bagus. FYI, untuk yang belum tahu Pram (panggilan dari Pramoedya), beliau adalah penulis buku asal Blora yang telah menelurkan puluhan karya sastra sejak masa kemerdekaan.

Karena penasaran, saya bertanya berapa harga untuk buku Bumi Manusia tersebut. Sang empunya toko mematok harga sebesar 40.000 rupiah saja! Bandingkan dengan yang dijual di Gramedia, buku Pram itu dijual seharga Rp. 132.000. Begitu kentara selisihnya. Kemudian saya berkeliling komplek Kwitang dan menemukan beberapa toko lainnya. Saya berhenti di salah satu toko yang terlihat cukup ramai. Tokonya luas, lebih luas dari yang pertama saya singgahi. Pasti koleksi bukunya lebih banyak lagi.

IMG_20180901_160356

Di toko itu saya kembali mendapati buku Pram. Kali ini lengkap 4 buku tetralogi Bumi Manusia yang keseluruhan hanya dipatok seharga 150.000 rupiah! Siapa yang tidak tergiur? Jika di Gramedia dengan uang IDR 132.000 saya hanya bisa membeli 1 buku Pram, maka di Kwitang saya dapat membawa pulang 4 buku Pram! Dan harga segitu belum termasuk tawar-menawar. Konflik batin terjadi tatkala dompet berkata “udah beli aja”, tetapi nurani tidak bisa meng-iya-kannya begitu saja. Sebab saya tahu kebanyakan buku di sana adalah buku bajakan. Saya sadar diri ini sudah terlalu banyak mengonsumsi produk bajakan, setidaknya soal buku, saya mencoba untuk tidak melakukannya.

Berburu pakaian ngetren di Pasar Senen

Saya kembali ke Pasar Senen setelah berkeliling Kwitang. Para pedagang sudah beres menggelar lapaknya. Lapak mereka sudah ramai oleh calon pembeli yang sedang sibuk memilih pakaian incarannya. Terlihat juga penjual es goyang ikut meramaikan suasana. Sementara itu kendaraan yang melintas, melaju dengan sangat perlahan sebab sebagian jalannya sudah diambil alih oleh lapak pedagang.

pasar senen

Pedagang es goyang ikut meramaikan

“Boleh dipilih boleh bajunya 5 ribu”, “Ayo jaketnya 100 ribu saja dapat 3, yang penting habis”, “Woy, jaket 10 ribuan jaket, bukan kantong kresek, jaket nih”. Itu adalah segelintir seruan para pedagang saat menjual dagangannya. Untuk menarik perhatian calon pembeli, pedagang yang masih muda melontarkan kata-kata yang unik dan terkadang nyeleneh. Sedangkan pedagang yang cukup berumur cenderung lebih kalem.

Pakaian yang dipajang pada rak gantungan biasanya masih bagus, harganya mulai dari 15 ribu ke atas. Sedangkan kaos atau jaket yang harganya 5 – 10 ribu yang digaungkan oleh para pedagang itu di tumpuk begitu saja dengan beralaskan karung, dan kualitas barangnya biasanya sudah tidak terlalu bagus.

pasar senen

Suasana pasar sore itu

Barang yang mereka jual adalah second-hand alias pakaian bekas. Meski bekas, pakaian di Pasar Senen masih layak untuk dikenakan. Kalau jeli dan mau berusaha mengubek-ubek pakaian satu per satu, bukan tidak mungkin akan menemukan pakaian bermerk. Sebab kebanyakan barang second-hand di sini berasal dari mancanegara.

Saya berhenti di lapaknya Pak Akbar, saya tertarik melihat jaket berwarna biru navy yang di gantung pada rak. Ia memasang harga awal IDR 160.000. Sebelum memutuskan untuk membeli jaket tersebut, saya mengecek senti demi senti untuk memastikan bahwa barang masih bagus. Dan, ya, jaket incaran saya itu masih mulus. Tak ada cacat sedikitpun, hanya terlihat sedikit kusam. Lalu saya mencoba menawar IDR 100.000. Awalnya ia tak mau dan hanya ingin melepasnya mentok senilai IDR 125.000. Tapi pada akhirnya jaket tersebut bisa saya bawa pulang hanya dengan 100.000 rupiah saja. Lumayan.

jaket biru navey

Jaket yang saya bawa pulang

Pak Akbar sempat bercerita, bahwa ia sudah berbisnis pakaian second-hand ini sejak tahun 1996. Pada awalnya ia berjualan dengan menyewa kios di dalam gedung. Akan tetapi setelah kebakaran terakhir yang melanda Pasar Senen, ia memutuskan untuk berjualan di pinggir jalan bersama para pedagang lainnya. Barang dagangan tersebut ia dapat dari pemasok dari luar negeri. Sebagian besar pakaian yang dipasok berasal dari negara 4 musim yang oleh konsumennya hanya sekali pakai tiap musimnya. Wajar saja jika beruntung bisa menemukan brand ternama dengan harga miring tapi bukan KW!

Mencari kuliner hingga blusukan ke dalam gang di Glodok

Semburat jingga sudah menghiasi langit kala saya berjalan menuju Stasiun Pasar Senen. Saya berencana melanjutkan perjalanan ke Glodok, sebuah kawasan pecinan alias Chinatown di Jakarta. Letaknya tak begitu jauh dari Jakarta Kota, stasiun terdekat ke Glodok.

Tujuan saya adalah mencari kuliner untuk makan malam. Glodok sendiri terkenal sebagai tempat berburu kuliner. Masakan khas Tiongkok memang menjadi buruan di kota mana pun yang punya kawasan pecinan. Memang sih, makanannya tentu banyak yang non-halal alias mengandung babi. Akan tetapi selalu saja ada yang halal kok.

Pantjoran Tea House

Pantjoran Tea House, kafe teh di Glodok

Dari Jakarta Kota saya berjalan kaki menuju Petak Sembilan, sebuah spot yang banyak menjajakan kuliner. Tikda jauh, hanya berjarak sekitar 1 km. Namun saat tiba di sana suasananya sepi. Karena ternyata pada sore hari kios penjual makanan sudah banyak yang tutup. Ah, sepertinya saya kemalaman, kurang riset. Tak kehabisan akal, saya blusukan ke dalam gang-gang di Glodok. Hasil googling di internet, ada yang bilang kalau masuk terus ke dalam gang masih dapat menemukan yang menjual kuliner.

Setelah blusukan cukup dalam, saya menemukan keramaian. Ternyata sedang ada acara di salah satu sudut gang. Suasananya sangat ramai, heboh. Sebab ada konser kecil-kecilan di sana. “Sedang ada acara tahunannya klenteng sini, Bang”, ujar seorang pemuda yang saya tanya ketika sedang asyik menikmati alunan lagu.

glodok

Warga larut dalam keseruan acara

Kemudian saya lanjut menelusuri gang dan secara tak sengaja menemukan warung Nasi Ulam Misdjaya. Kuliner yang pernah saya baca reviewnya di salah satu artikel manual.co.id. Nasi Ulam Misdjaya berdagang menggunakan gerobak, letaknya dekat dengan klenteng yang sedang mengadakan acara. Tepat di belakang panggung konser malam itu. Kebetulan sekali. Saya pun langsung memesan kuliner Betawi tersebut.

Seporsi nasi ulam yang saya pesan disiram kuah semur dengan berbagai lauk seperti dendeng, cumi goreng, tempe goreng, perkedel, lalu dihiasi irisan timun, daun kemangi dan dilengkapi kerupuk serta emping. Harganya IDR 25.000 termasuk dengan segelas air bening. Cukup sepadan dengan rasa nasinya yang khas setelah dicampur berbagai bumbu dan rempah. Apalagi di kala perut yang sedang keroncongan. Hehehe.

IMG_20180901_203420_HHT

nasi ulam

Setelah menyantap habis Nasi Ulam Misdjaya, saya pun mengakhiri kluyuran Kota Jakarta kali ini. Ternyata, keliling kota seru juga. Saya tak menyangka perjalanannya akan semenyenangkan itu. Pengalaman baru ini membuat saya ingin melakukannya lagi. Entah mengapa, bagi saya menelusuri tempat-tempat yang notabene bukan obyek wisata justru lebih berkesan ketimbang ke tempat yang ramai oleh wisatawan. Banyak hal-hal baru dan menarik yang saya ketahui mengenai Jakarta, bahwa ibukota kita ini bukan hanya ada macet, panas dan belantara betonnya. Tetapi ada sisi lainnya yang menarik untuk di jelajahi. [ms]

IMG_20180901_204946_HHT

nasi ulam misdjaya

Share: