Mengejar matahari terbit di Gunung Mahawu

Perjalanan dari Desa Timbukar menuju Tomohon, tepatnya di kaki Gunung Mahawu, waktu tempuhnya sekitar 40 hingga 60 menit. Namun bagi saya seperti sekejap mata saja. Setelah seharian beraktivitas; pagi hari rock climbing di Tebing Kilo Tiga, siangnya rafting di Sungai Nimanga. Kedua olahraga tersebut benar-benar menguras tenaga. Meski telah diberi asupan berupa daging paniki a.k.a Batman, tapi tubuh ini sudah mencapai batasnya. Maka ketika mobil elf membawa kami menuju Tomohon, saya langsung terlelap begitu punggung bersandar di kursi mobil.

Bermalam di Tomohon

Di Tomohon, akhirnya saya bisa tidur nikmat. Setelah hari sebelumnya hanya tidur di tenda dan tidur di mushola ketika bermalam di bandara. Hotel Gardenia Country Inn menjadi tempat menginap kami. Tempatnya uapik. Tidak seperti hotel pada umumnya yang berupa gedung bertingkat, hotel ini menggunakan konsep bungalow. Pada tiap bungalow terdapat kamar tidur double bed, kamar mandi yang cukup luas dengan bath tub serta teras untuk bersantai lengkap dengan sebuah meja dan sepasang kursi. Letaknya yang jauh dari kota membuat udaranya segar khas pegunungan. Selain bebas dari polusi udara, di sana juga bebas dari polusi cahaya, sehingga ketika malam jatuh jutaan pendar bintang terlihat jelas bertaburan di langit. Tempat menginap yang cocok digunakan bersama pasangan, sayangnya malam itu saya sekamar dengan Dena. Baiklah simpan dulu mimpimu, Ham!

gunung mahawu
pekarangan di sekitar hotel
gunung mahawu
padahal cangkirnya kosong, cuma ala-ala doang

Pukul satu dini hari, alarm ponsel Dena berbunyi. Saya terbangun, tapi karena rasa kantuk yang terlalu kuat, saya kembali tidur. Berkali-kali alarm ponsel saya dan Dena berdering bergantian, tapi teteup saya malas beranjak dari ranjang. Sudah pewe banget. Udara malam sangat dingin, pun kasur hotel yang posesif membuat diri ini ingin melanjutkan mimpi. Maklum, baru bertemu kasur setelah beberapa hari. Hingga saat waktu menunjukkan jam 2.30 saya benar-benar bangun akibat terpaksa harus memenuhi panggilan alam yang tak bisa ditunda. Beres dengan urusan toilet, kemudian saya membangunkan Dena yang masih dalam mimpinya. Kami harus bersiap-siap. Sekitar jam 3 dini hari, kami semua berkumpul di lobby hotel untuk briefing sebelum menuju ke Gunung Mahawu. Spot dimana kami akan menikmati matahari terbit.

Jalur Pendakian Gunung Mahawu

Ada dua jalur untuk mendaki ke Puncak Gunung Mahawu. Pertama adalah jalur yang turis banget, bisa ditempuh hanya dengan waktu 10 menit kalau kata kawan-kawan Manado. Medannya tinggal mendaki melewati tangga beton yang dilengkapi dengan pegangan di tengahnya. Karena perjalanan kami mengusung tema adventure, maka kami naik dari jalur kedua. jalur yang medannya seperti pendakian gunung pada umumnya. Diawali dengan melewati jalan makadam, kemudian berganti menjadi jalan setapak ketika sudah mendekati puncak. Dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan, cukup lah untuk mendapatkan kesan petualangannya. Hehehe. Karena untuk turunnya kami akan melewati jalur 10 menit supaya lebih cepat.

Menggunakan mobil elf, kami diantar hingga ke titik awal pendakian. Setelah itu kami baru mulai trekking dengan medan jalan makadam yang cukup lebar. Di kanan kirinya adalah hutan yang cukup lebat. Suara serangga seperti jangkrik dan tonggeret saling bersautan menemani pendakian kami. Begitu juga suara burung, yang paling saya ingat adalah suara dari bueuk alias burung hantu. Ketika bueuk itu berkicau, salah seorang dari kami membalasnya. Eh bueuk tersebut tak mau kalah, ia kembali berkicau dengan suara yang lebih nyaring. Kemudian kami serbu secara bersamaan dengan suara yang tak kalah nyaring. Ada-ada saja!

gunung mahawu
detik-detik matahari terbit

Matahari terbit dari Puncak Mahawu

Lama-kelamaan jalan semakin sempit dan berubah menjadi jalan setapak yang hanya muat dilewati oleh satu orang. Tak lama, jalan berganti lagi menjadi tangga beton yang dilengkapi pegangan besi, tapi pegangan tersebut sudah mulai rusak, terlihat dari kondisnya yang sudah berkarat dan ada yang patah. Jalan akan terus seperti itu sampai puncak. Saya tiba di puncak berbarengan dengan langit yang mulai menunjukkan warna kemerah-merahan tanda matahari akan terbit.

gunung mahawu
selfie pakai xiaomi yi, yang ngetren pada zamannya

Di puncak masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan tinggi sehingga panoramanya tertutupi. Oleh karena itu, di sana berdiri sebuah bangunan tanpa atap setinggi 3 meter yang bisa dinaiki untuk melihat pemandangan dari atasnya. Meski tingginya hanya 1.324 mdpl, Gunung Mahawu punya kaldera yang cukup luas. Di dalamnya juga terdapat danau kawah yang berukuran kecil, tetapi bau belerangnya sangat tajam tercium. Selain itu, dari atas puncak saya juga dapat melihat gunung lainnya seperti Gunung Lokon dan Gunung Empung yang berdiri dengan gagahnya. Sementara di kejauhan terlihat Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua dan pulau-pulau kecil lainnya yang seolah mengapung di Laut Sulawesi.

gunung mahawu
kaldera gunung mahawu

Cuaca yang cerah membuat matahari terbit terlihat sangat menawan. Hawa di puncak memang tak sedingin gunung-gunung berketinggian 2000 atau 3000an mdpl. Namun ketika pancaran sinar matahari mengenai permukaan kulit, rasa hangatnya tetap sama. Rasa hangat ini yang selalu saya rindukan ketika menikmati sunrise di gunung. Selain berfoto, kami menikmati pagi dengan secangkir kopi dan sepiring lawakan Bang Arlen yang membuat gelak tawa kami pecah. Bang Arlen memang orang yang sangat humoris. Semenjak kedatangan kami di Manado, selalu saja ada komedi yang ia suguhkan.

gunung mahawu
wajah-wajah lapar
gunung mahawu
bareng bang Rahung & kak Prue

Sekitar jam 7 pagi, kami bersiap untuk turun gunung dengan melewati jalur wisata. Namun sebelum itu kami harus mengitari puncak gunungnya terlebih dahulu, sebab titik untuk turun di jalur 10 menit ini berada di sisi lainnya. Setelah menuruni sekitar 160 anak tangga –saya tidak menghitungnya kok, ini dari wikipedia– kami sampai di gerbang masuk pendakian Gunung Mahawu. Ternyata benar, jalur ini memang turis banget. Lebih dari 10 menit sih, tapi terhitung cepat kok, yang pasti tak sampai 20 menit. Dengan trek berupa tangga beton yang dilengkapi pegangan besi, mengingatkan saya dengan Gunung Bromo. Kalau di Mahawu kanan-kirinya adalah pepohonan rimbun, sehingga suasananya terasa sejuk. Beda dengan Bromo yang gersang. Apalagi jika mendaki saat matahari sudah naik, panas, bikin dehidrasi dan kepala pusing!

gunung mahawu
turun-turun lewati tangga
gunung mahawu
no smoking, no parking, camkan itu ferguso!

Ternyata di dekat gerbang masuk terdapat tulisan “MAHAWU” yang berukuran besar. Tanpa banyak bicara, kami langsung ambil posisi di depannya begitu Bang Ian memberi isyarat. Foto bersama menjadi penutup perjalanan kami di Gunung Mahawu. Tujuan kami berikutnya adalah mengunjungi Pasar Beriman Tomohon atau terkenal dengan sebutan Pasar Extreme. Kenapa begitu? Nantikan cerita selanjutnya!

gunung mahawu
MAHAWU!

Berikut ada dokumentasi video yang juga dibuat oleh Kak Prue

Share: