Mengapa menulis dan melakukan perjalanan?

Awalnya, saya menulis hanyalah sebuah keisengan. Menulis pengalaman ketika saya melakukan suatu perjalanan. Untuk memperpanjang ingatan. Mengabadikan momen-momen yang mungkin memori otak saya tak dapat mengingatnya seiring berjalannya waktu.

Awal mula menulis

Dulu saya menulis benar-benar menggunakan pulpen dan ditulis pada sebuah diary book. Tapi tulisan saya jelek, sulit untuk dibaca, bahkan oleh diri saya sendiri. Selain itu acap kali saya typo, sehingga harus men-tipp-ex-nya atau bahkan mencoret satu kalimat penuh, untuk kemudian mengoreksinya. Namun itu malah mengurangi sisi estetisnya. Lalu saya berpikir, “kenapa tidak menulisnya pada sebuah blog?”

Bermula dari situ, saya mencoba untuk menulis cerita perjalanan itu ke dalam blog. Kemudian saya beri nama simple-wanderer(.blogspot.com). Itu adalah blog terdahulu saya. Sudah terlahir puluhan tulisan di sana. Dulu saya sempat berada di fase “rajin” menulis, dalam 1 bulan saya dapat menulis 4 – 5 tulisan. Dan itu bertahan cukup lama.

Mulai merasa jenuh

Hingga pada suatu ketika saya merasa malas, jenuh, setiap kali mencoba untuk menulis. Stuck! Mungkin efek dari periode yang saya lalui saat itu. Menjelang akhir perkuliahan. Satu tahun saya habiskan untuk mengerjakan tugas akhir. Kala itu setiap kali ingin menulis blog, saya selalu dihantui laporan skripsi yang terbengkalai yang meminta untuk segera diselesaikan. Sehingga saya tak mendapat ide-ide dan mood yang bagus ketika akan menulis.

pantai goa cina

pantai goa cina

Kembali menulis dengan energi & semangat baru

Alhamdulillah di bulan Januari lalu saya berhasil mengakhiri momen itu. Dan kini saya sudah tidak tinggal di bumi Arema, melainkan di kota yang identik dengan panas, macet dan.. oh iya kerak telor! Apalagi kalau bukan Jakarta. Di sini saya bergelut dengan suatu rutinitas selayaknya orang-orang yang pergi merantau ke ibukota. Entah mengapa, bagi saya kata “rutinitas” itu identik dengan kata “jenuh”. Apakah sinonimnya? Tolong beritahu jika dari kalian ada yang paham perihal ini.

Untuk mengatasi rasa jenuh akibat rutinitas yang itu-itu saja, saya memutuskan untuk kembali menulis. Hal yang saya sukai karena menulis itu menyenangkan. Saya dapat mengutarakan pemikiran, keresahan terhadap suatu hal ataupun hanya sekedar mendongeng. Ada kepuasan tersendiri setiap kali membuat tulisan. Apalagi jika ada yang membacanya. Dan saya akan lebih bahagia lagi bila ada yang merasa bahwa tulisan saya bermanfaat. Itu ibarat sebuah bensin yang membuat mobil dapat melaju.

candi ratu boko

candi ratu boko

Oleh karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk membuat blog baru, semangat baru dan juga harapan baru. Mungkin akan ada beberapa tulisan yang berasal dari blog terdahulu, namun saya akan berkisah dengan cara yang berbeda. Pada blog pertama, saya akui saya masih bingung ingin bercerita seperti apa, dengan cara penulisannya yang bagaimana. Terlihat dari tulisan saya yang terus mengalami perubahan dari tulisan pertama hingga terakhir. Berproses. Sepertinya itu kata yang tepat untuk menggambarkan awal saya pertama kali belajar menulis hingga kini yang juga masih tetap harus belajar. Semoga dengan terlahirnya blog ini, saya dapat menjaga konsistensi untuk terus menulis.

Alasan melakukan perjalanan

Berbicara soal perjalanan, saat kecil saya paling malas ketika diajak jalan-jalan oleh keluarga. Ke mall, obyek wisata, saya selalu menolak. Jika pun ikut, saya selalu ngambek dan minta cepat pulang. Saya lebih memilih tinggal di rumah dan memainkan console nintendo yang kala itu sedang merajai dunia game. Itu alasan pertama. Sedangkan alasan kedua adalah mabok, saya selalu merasa mual ketika berpergian menggunakan mobil. Apapun itu, angkot, elf, bus, semua sama saja. Senyaman apapun, saya selalu mabok. Kecuali jika ketiduran.

marina by sands

marina by sands

Semalas itu saya melakukan perjalanan. Suatu hari saat duduk di bangku kelas 5 SD, kakak laki-laki saya, Yuri, mengajak untuk pergi hiking. Entah kenapa saat itu saya menerima ajakannya. Lambosir, sebuah bukit di lereng Gunung Ciremai, menjadi tempat pertama saya bermain di alam -selain sawah dan kebon yang ada di sekitar rumah. Itu adalah kali pertama saya mendaki, meski hanya sebuah bukit, akan tetapi memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi saya.

Jika ditanya sejak kapan saya suka melakukan perjalanan, mungkin jawabannya adalah ketika pertama kali mendaki ke Lambosir. Seiring berjalannya waktu, tidak hanya bukit, gunung demi gunung pun saya daki. Kecintaan saya pada perjalanan memang bermula dari mendaki gunung. Kemudian saya mulai senang pergi melihat senja di pesisir pantai, membasuh kepala di percikan air terjun, menyebrangi lautan dari satu pulau ke pulau lainnya hingga menjelajahi sudut-sudut kota.

air terjun kapas biru

air terjun kapas biru

Hidup memang dinamis. Begitu pun dengan manusia, selalu berubah. Saya salah satunya. Dari yang dulunya paling malas untuk berpergian, kini bertransformasi menjadi seorang yang sangat antusias untuk melakukan perjalanan. Kemana pun selagi kaki masih dapat melangkah. Sebab dari tiap perjalanan, saya selalu mendapat pelajaran hidup yang berharga dari alam, dari orang-orang yang saya temui, dari momen-momen tak terduga yang terjadi selama perjalanan.

So, berbarengan dengan lahirnya “rumah” baru ini, saya memasuki babak baru dalam memaknai suatu perjalanan. [ms]

gunung lawu

gunung lawu

 

Share: