Pasar Extreme Tomohon, semua yang berkaki dimakan

Pasar Beriman Tomohon menjadi destinasi kami berikutnya. Pasar yang punya nama beken dengan sebutan Pasar Extreme ini sudah mendunia hingga masuk ke media-media mancanegara. Bagaimana bisa sebuah pasar tradisional bisa setenar itu? Hal ini pun menjadi pertanyaan di kepala saya. Rasa penasaran semakin menjadi tatkala kawan-kawan dari Manado bilang bahwa di sana ada daging hewan yang tak lazim diperjualbelikan. Seperti daging kucing dan ANJING!

Perhatian! Pada postingan ini mengandung foto-foto yang cukup disgusting (daging-daging berdarah). Jadi apabila kalian jijik melihat yang seperti itu atau jika kalian pecinta anjing/kucing dan tidak tega melihat hewan-hewan tersebut dalam kondisi tak bernyawa, diharap tutup mata, ya. Ehe.

Pasar Extreme nampak seperti pasar pada umumnya

Setelah mendaki Gunung Mahawu sejak langit masih gelap, perut kami hanya diisi oleh makanan ringan macam biskuit, roti dan kopi. Karena bagi orang Indonesia, kalau belum makan nasi, ya berarti belum makan. Kami akan pergi ke Pasar Extreme terlebih dahulu sebelum mencari sarapan. Sebab kawan-kawan dari Manado khawatir kami akan memuntahkan isi perut jika sarapan dulu baru setelah itu berkeliling di pasar. Baiklah, kami manut saja sama yang punya kawasan.

pasar extreme tomohon
panjang banget

15 menit perjalanan melewati jalanan khas pegunungan—naik turun dengan suguhan pemandangan hutan, ladang dan sawah, kami akhirnya sampai di Pasar Beriman Tomohon. Ketika turun dari mobil, saya melihat suasana pasar layaknya pasar tradisional pada umumnya. Orang-orang di sana menjual berbagai dagangan seperti sembako, sayur-mayur, buah-buahan, ikan dan daging. Tak ada bedanya dengan pasar-pasar lainnya.

Kemudian kami berjalan menyusuri sudut-sudut pasar hingga menemukan persimpangan yang terdapat sebuah plang bertuliskan “Pasar Extreme”. Saat saya memasuki area tersebut, ternyata di situ adalah lokasi orang berjualan daging. Namun yang membuat saya tercengang, daging yang dijual di sana bukanlah daging hewan yang lazim diperdagangkan di pasar Indonesia kebanyakan.

pasar extreme tomohon
kelelawar
pasar extreme tomohon
babi hutan

Extreme karena keberadaan daging yang tak lazim disantap

Memang sih ada juga daging sapi, kambing atau ayam yang dijual. Namun yang menjadi daya tarik adalah daging-daging macam anjing, kucing, babi hutan, paniki (kelelawar), ular piton, tikus sawah ekor putih, hingga Yaki (monyet hitam endemik Sulawesi Utara). Daging hewan-hewan tersebut dijual secara bebas di Pasar Extreme. Saya teringat perkataan Bang Bui saat kami makan malam di Kilo Tiga, ia berkata “Di Manado, semua yang berkaki dimakan kecuali meja dan kursi”. Saya percaya dengan perkatannya setelah melihat hewan-hewan tersebut dijadikan bahan makanan.

Daging anjing dan kucing dijual secara utuh dengan kondisi yang sudah dibakar. anjing dan kucing tersebut dieksekusi dengan cara diikat lehernya, kemudian dipukul kepalanya sampai mati. Baru setelah itu dibakar sampai permukaan kulitnya menjadi hitam. Kalau tikus sawah ekor putih, sebelum dibakar, tubuhnya ditusuk terlebih dahulu. Jadi seperti sate, tapi dengan kondisi yang utuh. Lalu bagian ekornya tidak ikut dibakar karena untuk menandakan bahwa itu adalah tikus ekor putih, bukan tikus rumahan yang suka ada di langit-langit atap rumah. Sedangkan paniki alias kelelawar dijual terpisah antara tubuh dan sayapnya.

pasar extreme tomohon
anjing
pasar extreme tomohon
kucing

Saya sempat melihat beberapa anjing hidup yang dikurung di dalam kandang, anjing-anjing tersebut memasang ekspresi ketakutan. Seolah mereka tahu, bahwa mereka tinggal menunggu giliran saja untuk dieksekusi. Saya merasa kasihan melihat mereka. Entah apa yang dirasakan oleh pecinta anjing jika melihat momen seperti ini. Pantas saja kalau pasar ini pernah dikritik oleh berbagai pihak.

pasar extreme tomohon
anjing-anjing yang tinggal menunggu giliran

Hewan-hewan yang dagingnya tidak lazim dijual tersebut tidak setiap hari bisa ditemukan di Pasar Extreme. Misalnya yaki yang ketika itu tidak saya temukan. Di lain sisi saya sedih ketika tahu bahwa yaki populasinya kini semakin menurun dan statusnya terancam punah. Yang memprihatinkan juga ketika saya mendengar cerita dari Bang Arlen kalau kucing di sana sudah jarang ditemukan, mungkin akibat terlalu sering dijadikan santapan. Padahal, mereka adalah hewan yang lucu. Tak terbayangkan kalau sampai dagingnya dihidangkan di atas meja makan malam.

pasar extreme tomohon
tikus ekor putih
pasar extreme tomohon
kepala babi

Makan Bubur Tinutuan khas Manado

Setelah puas (atau lebih tepatnya tak tahan) berkeliling di Pasar Extreme, kami sarapan di warung makan di daerah Wakeke. Untungnya saya tidak kehilangan selera makan, sehingga bisa sarapan Bubur Tinutuan khas Manado. Bubur ini terbuat dari bahan-bahan seperti beras, jagung, labu dan sayuran lainnya. Rasanya tidak jauh beda dengan bubur pada umumnya. Namun terasa lebih khas karena ada rasa manis dari jagung mudanya. Mantap!

pasar extreme tomohon
bubur tinutuan *tim bubur diaduk

Kemudian kami kembali ke hotel untuk istirahat sejenak. Rencananya kami akan melakukan canyoning di Air Terjun Tinoor. Sama seperti rappelling, canyoning adalah olahraga menuruni tebing menggunakan teknik descending pada seutas tali kernmantel. Bedanya, kalau canyoning menuruni air terjun. Tentunya akan lebih menantang dibanding rappeling. Sebab selain harus fokus untuk turun, pastinya akan semakin sulit karena bakal dihujam oleh guyuran air.

Setibanya di penginapan, Bang Ian memberitahukan kalau jam 12 kami harus sudah check out. Lumayan, masih ada waktu beberapa jam untuk tidur. Melepas lelah sehabis mendaki Gunung Mahawu dan berkeliling Pasar Beriman Tomohon. Hawa pegunungan yang dingin ditambah hujan turun membuat suasana semakin cocok untuk tidur. Tak lama kemudian saya sudah berada di alam yang lain.

Anak gunung nyasar di mall

Pukul 12.30, kami semua berkumpul di lobby hotel. Bang Ian membawa berita yang membuat kami kecewa. Canyoning di Air Terjun Tinoor dibatalkan! Bukan tanpa alasan, hujan yang mengguyur Manado selama berjam-jam membuat aliran air terjun menjadi sangat deras dan berbahaya jika memaksakan untuk canyoning. Alhasil agenda kami lowong hingga malam hari. Untuk mengisi kekosongan tersebut, kami memutuskan untuk nongkrong di mall dan menonton film Captain America: Civil War. Jauh-jauh ke Manado, ujung-ujungnya nonton bioskop juga.

pasar extreme tomohon
hilang arah

Yang lucu adalah saat kami beres nonton film, ketika hendak keluar dari mall, kami kehilangan arah a.k.a nyasar! Sampai-sampai kami harus baca denah dan berputar-putar mall hanya untuk mencari pintu keluar. Bahkan kami pun sempat bertanya pada satpam. Gara-gara hal ini muncul lelucon kalau kami yang suka main di alam, sering mendaki gunung, tak pernah tuh tersesat waktu masuk ke hutan. Lah, giliran di mall, hilang arah. Apalagi abang-abang Indonesia Expeditions yang notabene seorang mountain guide, bayangkan saja mereka sudah sering naik turun gunung dengan bermacam medan—hutan hujan tropis hingga gunung es. Namun di mall mereka tak berkutik, sebab tak bisa berorientasi medan di dalam mall. Emang dasar anak gunung, ya.

Setelah akhirnya berhasil keluar dari mall, kami pulang ke hotel. Berbeda dari sebelumnya, kali ini hotelnya berada di pusat kota, dekat dengan pelabuhan. Sebab esok paginya kami akan menyebrang ke destinasi utama dari perjalanan ini, Bunaken!

Share: