Pendakian Gunung Gede (via Gunung Putri), bertandang ke Surya Kencana

Sudah menjadi rahasia umum jika Gunung Gede-Pangrango (2958 & 3019 mdpl) selalu ramai oleh pendaki. Terlebih ketika akhir pekan, jika tidak booking online dari jauh-jauh hari, kuotanya pasti penuh. Sebab Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) memberlakukan sistem kuota pada tiap hari dan tiap jalurnya (Cibodas, Gunung Putri & Selabintana). Itu merupakan kebijakan yang tepat karena dapat menghindari jumlah pendaki yang membludak.

Saya baru mengetahuinya secara langsung ketika mendaki Gunung Gede beberapa waktu lalu. Jumat malam, ketika perjalanan menuju Bogor, di dalam gerbong-gerbong commuter line terlihat penampakan pendaki. Dengan gaya khasnya mengenakan kemeja flannel atau jaket tebal, memakai sepatu gunung dan menggendong carier dengan dibungkus warna-warni cover bag. Mereka terlihat mencolok, sangat kontras diantara para pekerja kantoran yang mengenakan kemaja rapih hingga sepatu pantofel. Salah satu diantara pendaki itu adalah saya.

Di Stasiun Bogor, penampakan pendaki gunung malah semakin banyak lagi. Di ruang tunggu, di teras Indom*rt, di loket stasiun, saya melihat mereka berkeliaran dimana-mana. Setelah melakukan perjalanan panjang dari Bogor ke Basecamp Gunung Putri, di sanalah saya pertama kali melihat basecamp yang penuh sesak oleh pendaki. Warung-warung yang merangkap sebagai tempat bermalam tak menyisakan space lagi, yang tidak mendapat lapak harus rela menahan dingin dengan tidur di teras warung. Bahkan ada pula yang hanya duduk di kursi warung, berbincang sambil menyeruput segelas kopi sepanjang malam.

Begitulah kondisi pra-pendakian ke Gunung Gede, dalam kasus ini pendakian via Jalur Gunung Putri. Mungkin hal serupa terjadi di jalur lainnya. Gunung Gede-Pangrango adalah sepasang gunung pelarian bagi para pendaki yang berdomisili di Jabodetabek. Tatkala hasrat mendaki sudah tak dapat dibendung, sementara libur panjang adalah sebuah mitos bagi kami para budak korporat, hanya mereka-lah obat pelepas rindu. Wajar, mengingat jaraknya yang paling dekat menjadikannya opsi paling realistis.

gunung gede

pendakian dimulai

gunung gede

our squad (dari kiri: Apri, Sultan, Luri, ehem, Harvin, Andi. Cewek satu, Belia)

Pendakian dimulai!

Perjalanan kami dimulai ketika matahari sudah naik, saat jarum jam menunjukkan pukul 8 pagi. Medan diawali dengan melalui jalan setapak yang kanan kirinya adalah ladang milik warga setempat. Sinar matahari masih terasa hangat. Waktu yang tepat untuk mulai mendaki, sebab tenaga pun masih full setelah semalaman dicharge.

Kemudian medan berganti ketika kami masuk ke dalam hutan. Tanjakan pun perlahan kian bermunculan. Trek Gunung Gede via Jalur Gunung Putri mulai menunjukkan tajinya. Kaki dipaksa harus melangkah agak tinggi sebab trek di sana menuntut akan hal itu. Sekilas jalur ini mengingatkan saya pada Gunung Ciremai dengan Jalur Linggajatinya. Tanjakan, tanjakan dan tanjakan.

Uniknya, di Gunung Gede pada tiap posnya selalu terdapat warung. Warga membuat flycamp untuk berjualan. Mulai dari gorengan, nasi uduk, p*p mie, mie instan hingga buah-buahan seperti semangka dan melon. Sementara minumannya tersedia kopi, susu, nutr*sari serta air mineral. Mungkin bagi sebagian pendaki ini hal bagus, sebab dapat mendaki tanpa perlu membawa banyak perbekalan. Cukup membawa sejumlah uang, sudah dapat makan tanpa perlu memasak terlebih dahulu. Tapi menurut saya, alangkah lebih baiknya membawa perbekalan sendiri dari bawah, seperti mendaki ke gunung-gunung lain yang tak ada warung di sepanjang jalurnya. Karena jarang-jarang kan bisa masak-masak di gunung? Fyi, warung-warung ini ada hingga ke Alun-alun Surya Kencana, bahkan di puncak!

Pendakian ini saya mendaki bersama kawan-kawan dari Komunitas Backpacker Jakarta. Dimana inilah kali pertama saya mendaki bersama mereka. Maklum, sejak pindah ke Jakarta saya tinggal berjauhan dengan partner mendaki semasa kuliah, sebab mereka tetap bertahan di Jawa Timur.

Tiba di Alun-alun Surya Kencana

Ketika waktu menunjukkan pukul 3 sore, saya bersama Sultan dan Luri tiba terlebih dahulu di Surya Kencana. Sementara 4 kawan lainnya yaitu Apri, Belia, Andi dan Harvin belum terlihat batang hidungnya. Sebab di tengah perjalanan kami terpisah menjadi dua kelompok. Karena Apri dkk sepertinya tertinggal agak jauh, kami menggelar matras di padang edelweiss yang amat luas itu. Sembari memasak air hangat untuk menyeruput teh kopi, dan tentu sangat disayangkan jika tak mengabadikan momen di padang yang ditumbuhi ribuan edelweiss tersebut.

surya kencana

akhirnya tiba juga

surya kencana

EDELWEISSS!!!

Alun-alun Surya Kencana, sebuah padang edelweiss di ketinggian 2750 mdpl. Datarannya sangat luas, sekitar 50 hektare alias dua atau tiga kalinya lapangan sepak bola! Bayangkan, tanah seluas itu dan tersebar pohon edelweiss di setiap sudutnya. Ribuan atau bahkan mungkin jutaan(?) edelweiss yang hidup di sana. Terlalu banyak untuk dihitung. Tak dapat dipungkiri lagi, lembah ini merupakan ‘rumah’ edelweiss. Selain itu, terdapat aliran air sungai yang membelah padang ditengah-tengahnya. Sayangnya kami ke sana saat musim kemarau, sehingga sungai sedang kering. Namun untungnya masih ada air yang mengalir meskipun kecil. Setidaknya itu dapat digunakan refill persediaan air kami untuk minum dan memasak.

surya kencana

sumber air, kecil nan amat berharga

Fajar yang mengagumkan

Ketika memasuki waktu subuh, sementara yang lain masih berada di mimpinya masing-masing, saya dan Luri sudah bersiap untuk berburu matahari terbit. Melawan rasa dingin demi mendapatkan kehangatan sinar yang dipancarkan sang fajar. 30 menit menunggu, 1 jam berlalu,  tapi mentari tak kunjung menampakkan wujudnya. Hanya cahaya kemerahan terlihat dilangit yang gelapnya perlahan menghilang. Ternyata letak kami mendirikan tenda di salah satu sudut Surya Kencana terhalangi oleh bukit. Wajar, Surya Kencana berada dilembahan yang dikelilingi oleh bukit yang tinggi. Namun kami tidak kecewa, sebab ternyata ada rembulan di arah yang berlawanan dengan terbitnya matahari. Meski jadwal piketnya untuk menerangi bumi sudah selesai, akan tetapi ia masih tetap bersinar dengan cahayanya yang kian meredup.

surya kencana

pagi surya kencana yang disinari rembulan

Waktunya summit attack!

Kami tidak melakukan summit attack pada dini hari, melainkan pada pagi hari setelah sarapan dan packing logistik. Kami akan turun melalui Jalur Cibodas. Karena arahnya berlawanan dengan JJalur Gunung Putri, maka dari itu mau tidak mau kami harus ke puncak dengan membawa carier dan seluruh perlengkapan.

Perjalanan ke puncak tidak begitu jauh. Setelah menyusuri Surya Kencana bagian barat, trek kembali masuk hutan bersama dengan tanjakannya. Sekitar 30-40 menit berjalan dengan beban carier yang seolah tak berkurang, kami akhirnya tiba di Puncak Gede! Alhamdululliah!

puncak gunung gede

tugu puncak gede

Cuaca sedang bagus. Cerah. Kaldera Gunung Gede terlihat jelas. Begitu pula dengan saudara kembarnya, Pangrango, yang menjulang sedikit lebih tinggi. Rasa syukur saya panjatkan karena kami berhasil ke puncak tanpa kurang seorang pun. Lengkap. Tapi ini bukan akhir perjalanan, sebab masih ada perjalanan turun yang harus kami lalui. Kami harus pulang dengan selamat.

IMG_20180729_103038_HDR

kawah gede dan puncak pangrango

IMG_20180729_105052_HDR

suguhan turun via cibodas

Perjalanan belum berakhir, rumah adalah tujuan akhir

Di perjalanan turun, ada yang menarik di Jalur Cibodas. Di sepanjang jalur pendakian, terdapat tiga air terjun di tiga titik berbeda. Yang unik, salah satu dari tiga air terjun terjun tersebut ada yang berair panas.

Curug pertama (yang terakhir jika naik dari Cibodas) yang kami jumpai adalah air terjun setinggi -/+ 10 meter. Letaknya tepat berada di dekat pos. Jadi kalau mendirikan tenda di sana, tidak perlu mengkhawatirkan soal air. Curug kedua adalah air panas. Air terjunnya pendek, di bawahnya terbentuk kolam dangkal yang dapat digunakan untuk merendam kaki. Posisinya tepat berada di sisi jalur pendakian. Selain itu terdapat dua shelter yang dapat digunakan untuk istirahat.

Curug yang terakhir kami tak mengunjunginya. Sebab letaknya dari Pos Payangcangan Kuda harus berjalan lagi ke arah yang berbeda dari jalur turun. Kami memutuskan turun tanpa singgah di curug. Mengingat hari sudah sore dan kondisi tubuh sudah sangat lelah. Tapi dengar-dengar sih curugnya ciamik. Tingginya sekitar 40 meter dan debit airnya cukup deras. Curug Cibeureum namanya.

*   *   *

Sayang memang, tapi tak apa. Curugnya tidak kemana-mana kok, begitu pula dengan gunungnya. Mungkin lain waktu saya akan kembali lagi. Sekalian berkunjung ke tempat kesukaan Soe Hok Gie semasa hidupnya, tempat dimana ia mendapat inspirasi dalam setiap coretan tulisannya. Jika Gede punya Surya Kencana, maka Pangrango punya Lembah Mandalawangi yang tak kalah mengagumkan. [ms]

taman nasional gunung pangrango

see ya, TNGP!

Share: