Pendakian perdana, sebuah perjalanan menaklukkan diri

Pada kesempatan ini, saya akan sedikit bercerita tentang pendakian saya yang pertama kali. Awal yang membuat saya ketagihan mendaki gunung. Namun kali ini saya akan mencoba menceritakannya dari sudut pandang orang ketiga. Selamat membaca 😊

* * *

Adzan Ashar baru saja lepas ke angkasa, ketika Ilham sibuk mempersiapkan logistik untuk mendaki gunung. Ilham, seorang pemuda berpostur tinggi tapi kurus alias jangkis (jangkung ipis) yang baru saja lulus SMA dari salah satu sekolah di Kabupaten Kuningan.

“Apa lagi yang perlu dibawa, Dek?” tanya ibu Ilham sembari memperhatikan anaknya.

“Nggak ada lagi. Udah semua,” timpal Ilham sambil memasukkan perlengkapan mendaki gunungnya. “Kalau gitu aku berangkat dulu, Bu. Assalamu’alaikum.” Ilham pamit dan mencium tangan ibunya.

“Wa’alaikumsalam. Hati-hati, Dek. Ibu do’akan semoga kembali pulang dengan selamat,” ucap ibunya lembut. Ia sebenarnya cemas membiarkan Ilham mendaki gunung. Sebab kakak laki-laki Ilham, Yuri, pernah mengalami musibah ketika mendaki beberapa waktu sebelumnya. Ia tak ingin kejadian serupa menimpa Ilham.

“Iya, Bu. Aku akan baik-baik saja, kok. Besok sore juga udah pulang.” Ilham mencoba meyakinkan ibunya bahwa tak akan terjadi apa-apa selama pendakian. Sembari melambaikan tangan, ia pun berangkat.

Bagi Ilham, ini akan menjadi pendakian perdananya. Sudah lama sekali ia menunggu hari yang sangat dinanti tersebut. Sebab saat masih sekolah, kesempatannya untuk mendaki sempat kandas berkali-kali.

Ada-ada saja penyebabnya. Bentrok dengan acara lain, tidak dapat izin dari orang tua hingga penyebab yang paling menyedihkan, kehilangan gairah. Ilham menolak begitu saja ajakan temannya ketika ada kesempatan datang.

Dua bulan setelah pengumuman kelulusan, kesempatan untuk mendaki gunung kembali menghampiri Ilham. Beruntung, ia punya teman yang tidak pernah bosan untuk mengajaknya mendaki. Heri namanya, teman Ilham sejak SMP dan satu organisasi pecinta alam semasa mereka SMA.

Berbeda dengan Ilham, Heri telah beberapa kali mendaki Gunung Ciremai. Meski bergabung dengan organisasi Siswa Pecinta Alam (SISPALA), Ilham tidak paham betul apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaki. Logistik peralatan yang dibawanya jauh dari kata lengkap. Sebuah daypack, sleeping bag, dua buah jaket, kupluk, kaos kaki bola, nesting + kompor paravin, senter dan termos mini.

Sedangkan yang dikenakannya adalah kaos lengan pendek, celana gunung abal-abal dan sepatu kasual. Masih banyak perlengkapan yang tidak persiapkan, seperti mantel hujan, alat navigasi, obat-obatan & p3k, survival kit serta sandal ganti. Bahkan pakaian dan khususnya sepatu tidak memenuhi standar minimal pendakian.

Tidak hanya itu, logistik perbekalan yang dipacking ke dalam daypack pun seadanya. Satu cup pop mie, beberapa bungkus mie instan, permen, coklat, air mineral 1.5L dan 600mL serta air panas pada termos mini. Bayangkan, dengan persiapan yang bisa dibilang tidak cukup matang, Ilham akan mendaki gunung dengan tinggi 3078 mdpl. Gunung tertinggi di Jawa Barat. Semoga saja semesta mendukungnya.

Pukul lima sore, seluruh anggota telah berkumpul di rumah Yanto. Selain Heri, Ilham akan mendaki bersama Yanto, teman SISPALA-nya juga. Kemuian Iqbal, Hendri dan Ryan yang merupakan adik kelas dan juniornya di SISPALA. Ryan sendiri mengajak 4 orang kawannya. Total ada 10 orang yang akan mendaki.

“Hayu kita berdo’a dulu sebelum berangkat,” ajak Heri yang bertindak sebagai leader pada pendakian ini. “Semoga pendakian kali ini dilancarkan sampai puncak dan dapat kembali pulang dengan selamat. Al-Fatihah.” Semuanya menundukkan kepala dan mulai berdo’a.

DSC00849

Memasuki Pos Cibunar, perjalanan mereka diiringi oleh melodi alam. Nyanyian ratusan tonggeret menemani perjalanan malam mereka. Melodi alam seperti ini akan sulit ditemukan jika berada diperkotaan. Namun tidak bagi Ilham. Semasa SMA bersama Heri dan Yanto, mereka kerap mendaki ke lereng Gunung Ciremai pada akhir pekan. Entah itu ke Cibunar, Lambosir, Kebon Jeruk, Cigenteng ataupun Sorog Jaya. Mereka hiking sekadar untuk menyalurkan hobinya.

Berjam-jam terlewati. Rombongan mereka terpisah menjadi dua. Ilham dan Heri berada di belakang tertinggal dari yang lain. Itu terjadi akibat Ilham berjalan sangat lambat. Musibah tiba-tiba menghampirinya. Sepatu kasualnya, yang sama sekali tidak cocok dipakai untuk mendaki, jebol. Mereka tak menduga hal seperti ini akan terjadi, sehingga mereka tak membawa sesuatu yang dapat digunakan untuk memperbaiki sepatu Ilham. Nahasnya. Mereka berdua pun tak membawa sandal ganti.

Pada awalnya Ilham memaksakan berjalan dengan memakai sepatu jebolnya. Namun hal itu justru malah menyulitkan langkahnya. Dipaksa oleh keadaan, ia memutuskan berjalan tanpa alas kaki alias nyeker. Sebuah keputusan yang mau tidak mau harus dilakukan. Kesialan terus menempel padanya malam itu. Mendaki di malam hari ditambah senter yang tidak terlalu terang membuat pandangannya kabur. Pijakan kakinya terkadang masuk ke kubangan air pada cekungan tanah yang seukuran mangkuk. Langkah kakinya menjadi licin dan membuatnya berkali-kali terpeleset.

Semakin lama kondisi fisik Ilham semakin menurun. Beban yang dibawanya semakin berat saat sepatunya yang jebol ia masukan ke dalam ransel. Bukan hanya logistik yang tidak ia persiapkan secara matang. Fisiknya yang jarang dilatih kini semakin melemah. Ia memang jarang sekali berolahraga. Satu-satunya olahraga yang ia tekuni adalah sepak bola. Namun itu pun ia lakukan dalam console playstation 2. Ketika Winning Eleven masih berada di masa kejayaannya.

Di tengah perjalanan, Ilham sempat menyesali keputusannya untuk ikut mendaki. “Ngapain aku ikut mendaki segala ya. Nelangsa gini. Padahal mah kalau di rumah ini teh lagi tiduran nonton tv sambil ngopi. Ah, nikmat euy!” batinnya membandingkan kondisinya kini dengan kebiasaanya saat di rumah. Ia kembali membatin dan semakin jatuh dalam keputusasaan, “Kalau nanti berhasil sampai puncak, ini bakal jadi satu-satunya pendakianku. Itu pun kalau sampai.”

Mental Ilham lama-kelamaan mulai jatuh. Tak jarang ia mengeluh di perjalanan. “Wa, masih jauh nggak sih? Pegel euy, sumpah. Pengen balik aja,” keluhnya pada Heri.

“Udah deket. Sebentar lagi juga sampai. Semangat atuh!”

“He-euh. Tapi istirahat dulu ya,” pintanya dengan wajah memelas.

“Nanti aja kalo nemu tanah yang datar. Jangan pas tanjakan gini atuh. Banyak break mah malah tambah lama entar,” protes Heri karena Ilham terlalu sering minta berhenti.

“Siap, Wa!”

Semakin lama mereka berdua semakin tertinggal di belakang. Heri mau tidak mau harus menemani Ilham. Sebagai seorang leader, ia punya rasa tanggung jawab atas keselamatan anggota pendakiannya. Terlebih, ia yang telah mengajak Ilham supaya ikut mendaki. Sebagai sahabat dekatnya, ia tidak bisa begitu saja membiarkan sohibnya terpuruk.

Pikiran Ilham semakin tidak fokus. Fisiknya seolah memberi tanda bahwa ia sudah mencapai batasnya. Melanjutkan perjalanan terasa begitu berat. Kembali turun pun bukan solusi yang bagus. Mengingat mereka sudah setengah jalan dan hari sudah larut malam. Keluhan demi keluhan terus ia ekspresikan baik secara lisan maupun sikap. Akan tetapi sesering apapun ia mengeluh, Heri tetap setia menyemangatinya. Seolah ingin menjaga mental sahabatnya supaya tidak jatuh.

Ketika tiba di Pos Batu Lingga, semangat Ilham yang telah memudar mulai kembali. Setelah beberapa lama tertinggal, ia dan Heri akhirnya dapat menyusul teman-temannya. Dengan napas memburu, ia merebahkan badan di tanah. “Ada yang bawa sendal nggak? Sepatuku jebol euy.” Itu kata pertama yang keluar dari mulutnya saat bertemu teman-temannya. Wajar, ia cukup menderita setelah beberapa saat mendaki tanpa alas kaki.

“Ada. Pake punyaku aja nih.” Ryan menawari sambil merogoh sandal di dalam ranselnya.

“Nah, akhirnyaaa. Nuhun, Yan!”

“Kenapa bisa jebol gitu, Kang?” tanya Iqbal heran.

“Nggak tau. Udah waktunya masuk museum paling. Kampret emang.” jawab Ilham kesal. Padahal karena sepatunya yang memang bukan untuk mendaki. Jadi wajar saja jika kini sepatunya menganga.

“Dari tadi nyeker atuh, Ham?” susul Yanto ikut bertanya.

“Enya, To.” timpal Ilham singkat sembari meminum air gula merah yang ditawari oleh salah satu kawannya Ryan.

“Edasz. Nggak kebayang. Kalo aku mah udah minta gendong ke Pak Kuwu.” seloroh Hendri sambil melirik Heri. Heri hanya tersenyum mendengarnya. Pak Kuwu adalah panggilan anak-anak SISPALA ke Heri.

Setelah beberapa menit istirahat. 10 pemuda itu kembali melanjutkan perjalanan. Ilham kali ini tidak berjalan di belakang. Ia berada di tengah rombongan. Tak mau ia tertinggal lagi di belakang. Dan yang paling penting, ia tidak lagi nyeker. Sudah cukup penderitaan yang ia rasakan setelah berjam-jam mendaki tanpa alas kaki. Sebuah pengalaman yang tentunya tak ingin dialami oleh siapa pun.

Tidak banyak orang mendaki. Sepanjang perjalanan hanya ada satu rombongan pendaki lain yang mereka temui. Padahal mereka mendaki di bulan Juni, waktu yang bagus untuk mendaki karena telah memasuki musim kemarau. Namun kegiatan mendaki gunung memang belum terlalu hype kala itu. Film 5cm yang menggaungkan dunia pendakian ke masyarakat Indonesia belum tayang.

Sekitar pukul satu dini hari mereka tiba di Pos Sangga Buana 1. Ilham yang kelaparan langsung menyeduh pop mie menggunakan air panas pada termos mininya. Heri dan Yanto sibuk menggelar tenda. Hendri dan Iqbal sedang mengenakan pakaian hangatnya. Sedangkan Ryan dan beberapa kawannya memasak air menggunakan kompor paravin.

DSC04491

Sebenarnya bukan hanya Ilham yang tidak matang mempersiapkan kebutuhan pendakian. Baik perlengkapan individual maupun team, sebagian besar tidak menggunakan perlengkapan khusus untuk mendaki. Misalnya sepatu. Bukan cuma Ilham yang memakai sepatu kasual. Yanto, Hendri, Ryan dan kawannya juga memakai sepatu yang biasa dipakai untuk pergi ke sekolah. Sementara Heri dan Iqbal memakai sepatu futsal. Hanya saja yang hanya Ilham yang tertimpa sial, sebab sepatu mereka aman-aman saja. Lalu sleeping bag. Dari sepuluh orang yang mendaki, hanya Ilham seorang yang membawa selimut kepompong itu. Yang lainnya malah cuma membawa sarung.

Logistik team lebih parah lagi. Tenda sebagai barang yang wajib dan vital dalam pendakian, mereka hanya membawa 1, milik Heri. Itu pun tenda kapasitas 2 orang yang dipaksa dimasuki oleh 5 orang. Heri, Yanto, Hendri dan Iqbal yang mendapat seat. Hendri dihitung 2. Sedangkan Ilham, Ryan dan lainnya terpaksa harus tidur beralaskan matras, berselimutkan sleeping bag/sarung dan beratapkan langit berbintang. Semoga mereka tidak hypothermia.

Di ketinggian yang hampir menyentuh angka 3000 mdpl, Ilham mencoba tidur dalam kondisi yang sangat tidak nyaman. Tekstur tanah yang tidak rata membuat punggungnya sakit sehingga sering bergonta-ganti posisi. Terpaan angin gunung secara langsung tanpa perlindungan tenda lama-kelamaan membuat suhu tubuhnya menurun. Ia mengakalinya dengan tidur berdempet-dempetan dengan Ryan dan kawan-kawannya untuk menjaga suhu tubuh supaya tetap hangat.

Ilham mulai memejamkan mata dan mencoba tidur. Rasa lelah setelah mendaki membuatnya dapat tertidur. Tapi tidur-tidur ayam. Setengah sadar, setengah (hampir) tidur. Udara dingin di Pos Sangga Buana 1 semakin menjadi-jadi. Angin gunung terus-menerus menerpa tanpa ampun.

Pukul empat pagi, Ilham terbangun oleh rasa dingin yang luar biasa. Tubuhnya mengigil hingga giginya bergemeletuk. Begitu juga dengan Hendri, Iqbal dan Heri yang tidur di dalam tenda. Bahkan Yanto yang biasanya paling kebal, tak kuasa menahan udara dingin di Sangga Buana 1. Sampai-sampai ia menghangatkan diri dengan membakar tablet paravin.

Air mineral yang disimpan pada botol berubah menjadi air es saking dinginnya udara di sana. Roti pun menjadi keras ketika Ryan menggigitnya. Seperti telah disimpan berhari-hari di dalam kulkas. Bahkan rambut menjadi sangat kaku saat Ilham mencoba menyisir rambut ikalnya. Beku!

Mereka berangkat untuk summit attack meninggalkan Yanto yang katanya akan menyusul. Begitu pula dengan Hendri dan Iqbal yang masih leyeh-leyeh di tenda. Perjalanan tinggal sedikit lagi. Tinggal Pos Sangga Buana 2, Pos Pangasinan dan terakhir puncak. Begitu kata Heri. Dari 10 orang yang mendaki, hanya Heri dan Yanto yang pernah mendaki sampai Puncak Gunung Ciremai. Selebihnya merupakan pendakian perdana bagi mereka.

Baru beberapa menit berjalan. Salah satu kawan Ryan merasa tidak enak badan. Ia ingin turun dan menunggu di camp. Karena kondisinya tidak bisa dipaksakan, ia pun turun ditemani kawanya Ryan yang lain. Sehingga menyisakan 5 orang yang lanjut mendaki.

DSC04478

Satu jam berlalu. Ilham keluar dari hutan dan tiba di dataran luas yang cukup terbuka. Itulah Pos Pangasinan. Terdapat satu tenda berdiri di sana. Mereka adalah rombongan pendaki lain yang ia temui sebelumnya. Dari sana, Pucuk Gunung Ciremai sudah terlihat.

Sebelum mendaki ke puncak. Mereka berlima memutuskan untuk menyaksikan sunrise di Pangasinan sembari menunggu Yanto, Iqbal dan Hendri. Di ufuk timur, warna kuning kemerahan mulai menerangi gelapnya langit. Sang mentari perlahan mulai menampakkan wujudnya. Ilham tampak begitu menikmati proses terbitnya matahari. Yang membuatnya istimewa adalah karena ia menyaksikannya diketinggian 2800 mdpl.

Ilham merasa menjadi salah satu orang paling beruntung di dunia, sebab tak semua orang pernah menjadi saksi terbitnya sang fajar dari atas gunung. Hal ini pula yang ia idamkan. Salah satu alasan kenapa ia ingin mendaki gunung. “Indah sekali,” ucapnya pelan.

Sementara Ryan dan kawannya sudah mulai berfoto. Ilham pun tak ingin kehilangan momen. “Wa, fotoin atuh.” sembari menyodorkan ponsel samsung corby-nya yang dimasanya menjadi ponsel touchscreen yang cukup terjangkau.

“He-euh, sok kadieu hp-na.”

“Maneh erek difoto teu?”

“Moal ah, geus mineng. Bosen.”

“Anjrit. Ai si eta meuni gaya.”

Photo2747

Tak seperti Ilham yang begitu gembira ketika melihat sunrise, Heri terlihat datar-datar saja. Wajar ini sudah yang kesekian kali baginya. Sehingga menjadi sesuatu yang biasa.
Perjalanan kembali berlanjut. Puncak Ciremai sudah sangat dekat. Pucuknya dapat terlihat dari Pos Pangasinan. Ilham sangat yakin dapat menggapai puncak tersebut.

Tinggal sedikit lagi, mimpinya untuk mendaki hingga ke puncak dapat terwujud. Namun walaupun tinggal sedikit lagi, perjalanan justru semakin berat. Medan semakin menanjak. Jalur tanah mulai berganti menjadi bebatuan vulkanik. Udara yang sebelumnya sangat dingin berubah drastis menjadi panas seiring matahari yang terus meninggi. Bahkan oksigen pun semakin menipis, membuat nafas tidak teratur. Meski begitu ia tetap berjuang, ia tak akan menyerah untuk mimpinya.

DSC04486

Beruntung, selepas Pos Pangasinan merupakan habitat dari edelweiss. Si bunga abadi. Konon, bunganya tidak akan layu meski dipetik. Bunga itu menjadi penyemangat Ilham. Melihat keberadaan bunga edelweiss membuatnya sumringah. Tak ayal, perlu perjuangan besar untuk bisa melihat secara langsung edelweiss yang cuma ada di ketinggian gunung. Sepanjang perjalanan ke puncak, edelweiss mendominasi di sisi kanan dan kiri jalur pendakian. Namun sebagian besar bunganya belum mekar.

DSC00936

Sekitar jam tujuh pagi, Ilham untuk pertama kali menginjakkan kakinya di Puncak Gunung Ciremai. Gunung yang selama ini hanya bisa ia pandangi dari belakang rumahnya selama 17 tahun, akhirnya dapat ia daki hingga ke pucuknya. Perasaannya campur aduk antara kesal, bahagia, lega hingga haru. Rasa lelahnya seketika lenyap. Ia sangat bersyukur. Perjuangannya tidak sia-sia, karena kini impiannya telah terwujud.

DSC02958

Ilham mengambil posisi duduk di bibir kawah. Sejenak ia terdiam memandangi Kawah Ciremai. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah timur. Didapatinya samudera awan yang berada di bawahnya bak gumpalan kapas raksasa. Lebih rendah lagi nampak rumah-rumah yang terlihat sangat kecil. Sembari mengagumi Maha Karya Tuhan yang sangat mengagumkan, ia menyadari bahwa manusia betapa kecil dibandingkan dengan gunung, apalagi dimata Tuhan. Maka apa yang dapat disombongkan dari seorang manusia?

Ilham sering mendengar pendaki yang katanya telah menaklukkan gunung ketika pendaki tersebut berhasil mencapai puncaknya. Namun bagi Ilham itu sebuah pernyataan yang terkesan angkuh dari seorang manusia. Setelah tahu bagaimana rasanya berjuang untuk dapat menginjakkan kaki di puncak gunung, ia menyadari bahwa bukanlah gunung yang ia taklukkan, melainkan dirinya sendiri. Seperti kata seorang pendaki Gunung Everest;

“It’s not the mountain we conquer, but ourselves.” Edmund Hillary

Esok paginya Ilham berbaring di kursi panjang sembari menonton televisi. Ia tertawa mengingat dirinya yang putus asa ketika mendaki. Ia sempat berpikir bahwa pendakian kemarin akan menjadi satu-satunya yang akan ia lakukan. Tak habis pikir dengan dirinya sendiri kala itu. Namun setelah turun gunung, dengan percaya diri ia bertekad bahwa pendakian Gunung Ciremai ini hanyalah permulaan dari gunung-gunung lainnya yang akan ia daki.

Sekian…

* * *

Terima kasih untuk seluruh kawan-kawan sependakian, Hendri, Iqbal, Yanto, Ryan dkk, khususnya untuk Heri yang tetap setia menyemangati dikala mental jatuh dan fisik telah mencapai batas. Berkat kalian, saya dapat mewujudkan impian yang sebelumnya hanyalah sebuah angan-angan. Ucapan saya soal Gunung Ciremai sebagai permulaan pun kini sudah terbukti. Alhamdulillah, gunung-gunung lain sudah berhasil saya raih dan juga masih terus berpetualang mendaki gunung yang belum saya singgahi.

Saya bersyukur dulu memutuskan untuk ikut mendaki, meski dengan perlengkapan seadanya serta kondisi fisik & mental yang jauh dari kata ‘siap’. Yang jika dilihat oleh diri saya saat ini, pendakian perdana saya kala itu sangat tidak safety procedure dan cuma modal ‘nekat’. Akan tetapi dari situ saya belajar. Karena saya sadar, mendaki gunung adalah kegiatan yang penuh oleh resiko dan selalu diintai oleh marabahaya. Dan sebagai pendaki, kita harus mempersiapkan segalanya dengan matang. [ms]

Salam Lestari!

Share: