Resensi buku perjalanan vol. 1: Garis Batas

“Apakah benar kebebasan dan kemerdekaan itu adalah yang terbaik bagi semua orang? Mana yang lebih penting, bebas bersuara tetapi kelaparan, ataukah mulut dibungkam tetapi perut selalu kenyang?” (Halaman 162).

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh warga negara Kirgizstan. Negara yang kini merdeka, namun digerayangi oleh kemiskinan. Sementara orang-orangnya selalu dibayangi masa lalu, saat di bawah kediktatoran Uni Soviet. Meski kebebasan berpendapat direnggut, tetapi semua orang mempunyai pekerjaan dan tak ada yang kelaparan.

Itu adalah sekelumit problematika orang-orang yang ditemui oleh Agustinus Wibowo ketika melakukan perjalanan ke Asia Tengah. Tatkala runtuhnya rezim komunis di Uni Soviet menciptakan garis batas antar bangsa yang mendiami tanahnya masing-masing. Hingga terbentuklah negara-negara berakhiran -stan. Stan dari bahasa Persia yang berarti tanah. Kirgizstan, tanah bangsa Kirgiz. Uzbekistan, tanah bangsa Uzbek.

Kirgizstan adalah satu dari 5 negara Stan lainnya yang dikunjungi Agustinus. Tajikistan, negara yang warganya menjunjung tinggi pendidikan, namun banyak orang bergelar justru menganggur karena tak adanya lapangan pekerjaan. Kazakhstan, negara yang mendadak kaya berkat sumber daya alamnya yang melimpah, tetapi seakan tak ada artinya karena biaya hidup pun melambung tinggi. Uzbekistan, negara Stan yang paling anti Soviet, setelah merdeka etnis Rusia tergusur kedudukannya meski dahulu merekalah yang membangun kota orang-orang Uzbek. Dan Turkmenistan, negara yang mengisolasi diri dari dunia, mengurung rakyatnya dalam ide-ide negeri impian.

Sangat menarik untuk dibaca khususnya bagi yang memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya dan sejarah suatu bangsa. Apalagi jarang ada buku yang mengangkat negara-negara ex Uni Soviet ini. Cara berkisah Agustinus yang kuat dalam menggambarkan latar cerita sukses membuat pembaca seolah ikut masuk ke dalam perjalanannya. Perjalanan mengisahkan manusia yang dikotak-kotakan oleh sebuah garis imajiner.

Agustinus tidak sekedar membawa pembaca mengunjungi tempat di suatu negara, namun menyelami kehidupan masyarakatnya. Mengenal lebih dalam orang-orangnya, mempelajari budaya, sejarah, perekonomian hingga agama dan kepercayaannya. Pengalaman batin yang menguji mental, fisik, kepercayaan diri, bahkan menantang harga diri. Bagi Agustinus, backpacking adalah proses pembelajaran. Bukan hanya sekedar mengunjungi destinasi, melainkan untuk memaknai perjalanan itu sendiri. [ms]

Share: