Road Trip lintas Jawa Timur vol. 1: Coban Sewu (Malang)

3 tahun lalu, tepatnya September 2015, saya pernah melakukan road trip. Tidak jauh, hanya melintasi beberapa kota di Jawa Timur. Di setiap kotanya, saya selalu singgah di suatu destinasi. Kemudian bermalam dengan berumahkan tenda.

Perjalanan dimulai setelah saya menunaikan shalat ied adha yang jatuh pada hari kamis. Ketika kawan-kawan seperantauan pulang kampung untuk merayakannya bersama keluarga, sedangkan saya tidak. Jarak yang cukup jauh (Malang – Kuningan) dan libur yang cuma 4 hari (Jum’at bolos, ditambah Sabtu & Minggu) menjadi alasannya. Tapi saya tidak sendiri, karena ada pula yang senasib. Cahyadi, teman satu jurusan semasa kuliah, juga tidak pulang. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan ini, serta membuat rute dan apa-apa saja yang akan disinggahi selama 3 hari.

Blade merah, motor yang kami kendarai dalam perjalanan ini. Motor yang sudah sering saya bawa ke berbagai medan. Mulai dari jalan aspal, berpasir, makadam hingga bebatuan. Motor bebek rasa motor trail. Biasanya orang akan mengecek kendaraannya dulu jika hendak melakukan perjalanan jauh, tapi tidak dengan saya. Jangankan mengecek motor, urusan service saja baru saya lakukan ketika si blade ini benar-benar dirasa tidak nyaman saat ditunggangi. Jujur, saya adalah orang yang tak paham soal motor, saya hanya bisa pakai. Kalau motor mogok atau bermasalah, saya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Perjalanan menuju Air Terjun Tumpak Sewu

Tujuan pertama kami adalah Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang atau Coban Sewu jika datang lewat pintu masuk dari Malang. Air terjun ini memang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Kala itu kami tidak tahu-menahu soal ini, yang kami tahu air terjun tersebut berada di Lumajang. Karena ketidaktahuan itu kami agak bingung ketika masih di Ampelgading, Malang, kami melihat baliho besar bertuliskan Coban Sewu di pinggir jalan dengan gambar pemandangan air terjun yang familiar. Tapi karena belum masuk ke Lumajang, kami berkesimpulan bahwa Coban Sewu dan Air Terjun Tumpak Sewu adalah destinasi yang berbeda. Asumsi kami semakin dipertegas saat kami bertanya pada 3 orang ibu-ibu yang sedang bergosip di halaman rumah.

“Permisi, Bu, numpang tanya. Kalau mau ke Coban Sewu benar ke sini?” tanya saya.

“Iya, Mas, betul. Sampean terus ikutin aja jalannya, ndak jauh kok.” jawab ibu berbaju merah.

Untuk memastikan bahwa Coban Sewu itu adalah Tumpak Sewu atau bukan, saya kembali bertanya.

“Maaf, Bu, kalau Coban Sewu sama Tumpak Sewu itu sama ya, Bu?”

Si ibu berbaju merah kebingungan, sepertinya dia tidak tahu. Kemudian bertanya pada dua temannya. Mereka berbicara menggunakan Bahasa Jawa Krama. Saya dan Cahyadi yang asli orang Jawa Barat, tak paham apa yang dibicarakan oleh mereka. Lalu ibu berkerudung motif bunga menjawab “Iya, sama, Mas,” tetapi dengan nada bicara yang ragu dan raut wajah yang bingung. Kami pun pamit dan berlalu dengan berkesimpulan bahwa Coban Sewu dan Tumpak Sewu adalah dua air terjun yang berbeda. Lumayan kan. Sekali dayung, “dua ribu” air terjun tersambangi. Begitu pikir kami.

Tak sampai 5 menit kami tiba di lokasi parkir. Setelah membayar karcis masuk IDR 5K/orang, kami masih harus berjalan menuju air terjun. Sekitar 10 – 15 menit perjalanan, kami sudah dapat melihat air terjun dari atas. Panorama yang terhampar persis seperti Air Terjun Tumpak Sewu yang sering saya lihat di instagram. Mirip sekali. Saya bingung, Cahyadi pun begitu.

coban sewu

kalau foto ini diambil dari gerbang Tumpak Sewu (kali ke2 saya kesana)

Tak seperti air terjun pada umumnya, Coban Sewu ini memilki sederet sumber air yang jatuh di tebing. Tumbuh-tumbuhan hijau hidup di sekeliling air terjun yang membuat mata segar saat memandanginya. Perpaduan air terjun dan tumbuhan terlihat kontras dengan dinding-dinding tebing yang berwarna kecokelatan. Saya yakin, siapapun akan takjub melihat keindahan air terjun setinggi 180 m ini.

Turun ke dasar air terjun

Menurut informasi yang saya dapat dari berbagai sumber, untuk turun menuju dasar Air Terjun Tumpak Sewu itu perlu trekking hingga 1 jam perjalanan melalui jalan setapak menembus ke dalam rimbunnya hutan. Namun, jalan yang kami lewati kala itu adalah tangga dari bambu yang disusun sedemikian rupa. Dan kami hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Hhm, trek yang dilalui berbeda, nama pun berbeda, tapi kenapa pemandangannya persis? Hal ini masih mengganggu pikiran saya. Entahlah. Ketimbang pusing memikirkan hal itu, kami lantas menghamburkan diri ke air terjun.

coban sewu

cahyadi di dasar coban

coban sewu

sudut lainnya dari bawah coban

Suara deru air menyambut ketika kami menginjakkan kaki di dasar air terjun. Percikan airnya datang dari berbagai arah. Saking banyaknya titik air yang jatuh dari sekeliling tebing, wajar jika disebut Coban Sewu. Coban berarti air terjun, sedangkan sewu artinya seribu.

Cukup banyak wisatawan kala itu. Meskipun bukan akhir pekan, tetapi hari itu adalah Hari Raya Idul Adha. Sehingga banyak orang-orang dari Malang, Lumajang atau kota lainnya berwisata ke Coban Sewu. Memanfaatkan hari libur dengan quality time bersama keluarga.

Hingga detik itu, kami masih berpikir bahwa air terjun di depan mata kami bukanlah air terjun tujuan kami. Oleh karena itu, setelah menikmati kesegarannya dan mengambil beberapa foto, kami bergegas naik untuk menuju Air Terjun Tumpak Sewu. Ketika sedang menaiki tangga bambu, saya melihat di kejauhan ada beberapa orang datang dari arah yang berbeda. Bukan menuruni tangga bambu seperti halnya kami. Sambil terus berjalan naik menuju parkiran, saya dan Cahyadi kembali memperdebatkan air terjun ini. Karena jika Coban Sewu adalah Air Terjun Tumpak Sewu, mengapa kami harus buru-buru pergi?

Sesaat setelah meninggalkan Coban Sewu, kami melewati perbatasan Malang – Lumajang. Dan tak jauh dari sana, saya melihat baliho bertuliskan Air Terjun Tumpak Sewu! Setelah melihat itu saya benar-benar yakin kalau air terjun yang baru saja kami kunjungi adalah tujuan pertama kami. Pffttt.

coban sewu

tuh.. jangan ke mall mulu katanya

Karena destinasi pertama sudah dikunjungi, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke pesisir Lumajang. Pantai Wotgalih, di pantai berpasir besi ini lah kami akan bermalam.

Share: