Road Trip lintas Jawa Timur vol. 2: Pantai Wotgalih (Lumajang)

Setelah menyambangi Coban Sewu/Air Terjun Tumpak Sewu, kami melanjutkan perjalanan. Tujuan kami berikutnya adalah Pantai Wotgalih di Yosowilangun, Lumajang. Di pantai berpasir besi ini lah kami akan bermalam mendirikan tenda.

Kami yang tidak tahu arah, hanya disupport oleh GPS, google maps. Awalnya perjalanan lancar-lancar saja saat masih berada di jalan besar. Akan tetapi ketika memasuki daerah pesisir yang minim sinyal, google maps menjadi useless. Mau tidak mau kami menggunakan GPS ‘lainnya’, yaitu Gunakan Penduduk Setempat alias bertanya pada warga.

Mencari jalan menuju Pantai Wotgalih tak semudah membalikkan telapak tangan. Berkali-kali kami salah arah. Hingga bertanya pada orang entah sudah berapa kali, tapi tetap saja kami kembali tersesat. Mengakses google maps pun mustahil karena sinyal benar-benar sudah di luar jangkauan.

pantai wotgalih

akhirnya sampai di pantai berpasir hitam (besi)

Pada akhirnya, kami tiba di kawasan Pantai Wotgalih sekitar pukul 5 sore, tepatnya di lokasi yang biasa digunakan parkir kendaraan. Ketika kami sudah sampai di ujung jalan, ternyata di sana ada banyak orang. Saat saya mendekat, salah seorang dari mereka bertanya.

“Mau kemana, Mas?” tanya seorang bapak berkaos garis-garis yang kira-kira berumur 40an.

“Ke Pantai Wotgalih Pak, bener di sini?” jawab saya dan balik bertanya penuh harap.

“Iya bener, tapi sekarang lagi ditutup, Mas. Jembatannya lagi direnovasi, jadi nggak bisa lewat”.

Saya terkejut, kami tidak bisa ke pantai. Lalu dimana kami akan bermalam? Terlebih hari sudah menjelang malam.

“Renovasinya masih lama, Pak?” tanya Cahyadi memecah keheningan, sebab saya masih melongo ketika mendengar bahwa pantai ditutup.

“Masih Mas, baru mulai sekitar semingguan. Masih 2 – 3 bulan lagi,” timpal bapak itu sembari berjalan menghampiri ke arah teman-temannya.

Ketika saya dan Cahyadi sedang berdiskusi akan bermalam dimana, ada seseorang lain yang menghampiri kami. Kali ini laki-laki berumur sekitar 20an akhir. Ia bercerita bahwa telah mengantar tamunya dari Surabaya ke Pantai Wotgalih. Kendaraan memang tidak bisa lewat, maka dari itu ia memarkir kendaraannya dan berjalan menuju pantai. Ia memberikan solusi untuk bermalam di Pantai Papuma, Jember, saat kami bilang bahwa rencana awal kami akan mendirikan tenda di Pantai Wotgalih.

pantai wotgalih

ada kolam tak jauh dari kami berkemah

Kami sempat mempertimbangkan opsi tersebut. Memang masuk akal sih. Kawasan Pantai Papuma buka 24 jam, kami bisa datang kapan saja. Selain itu kondisi di sana cukup ramai, berbeda dengan di Pantai Wotgalih yang sangat sepi. Dari segi keamanan, Papuma lebih menjanjikan. Papuma memang tujuan kami selanjutnya, tapi perjalanan Lumajang – Jember butuh berapa jam? Hari sudah malam, terlebih kami tidak tahu jalan. Ditambah kondisi kami yang lelah setelah melakukan perjalanan dari Malang hingga ke Wotgalih.

Setelah berdiskusi dengan Cahyadi, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam dan mendirikan tenda di lahan parkir Pantai Wotgalih. Suasana saat itu sudah sepi, warga dan wisatawan dari Surabaya pun sudah pulang. Tapi masih tersisa satu orang warga, bapak-bapak yang baru datang dari pantai dan hendak pulang. Kami mencegatnya dan bertanya apakah boleh bermalam di sana. Dia menjawab silahkan saja, lalu menambahkan bahwa di sana saat malam kondisinya memang sepi, tapi InshaAllah aman.

pantai wotgalih

tempat kami bermalam

Setelah mendapat izin, kemudian kami mendirikan tenda. Suasananya sepi dan damai. Selain kami, hanya terdengar suara deburan ombak di kejauhan dan suara hewan. Mulai dari siulan burung, katak hingga jangkrik yang saling bersahutan. Aah, melodi alam itu memang menentramkan jiwa. Ketika masih mendirikan tenda, tiba-tiba saja ada sekawanan entok yang terbang membuat sore itu semakin menarik bagi kami.

Ketika langit sudah menggelap, tenda sudah berdiri dan barang bawaan kami sudah tersusun rapi di dalam tenda. Seperti umumnya orang berkemah, ketika malam jatuh, tibalah waktunya memasak. Kompor, nesting dan gas butana sudah kami persiapkan sejak di Malang. Mie instan dan kopi menjadi penutup malam kami setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

pantai wotgalih

makan malam kami hehe

Sekitar jam 3 dini hari saya terbangun dari tidur, kebelet kencing. Saya pun keluar tenda dan mencari lapak di antara semak-semak. Selagi buang air kecil, saya menengadah ke langit. Mata saya terbelalak. Saya terpukau ketika melihat langit. Ribuan bintang bertaburan di langit Wotgalih malam itu! Ditambah dengan munculnya bintang fajar alias Planet Venus. Bersih tanpa ada awan ataupun polusi cahaya yang menghalangi. Rembulan pun sudah kembali ke peraduannya. Setelah panggilan alam selesai, saya bergegas kembali ke tenda dan mengambil kamera untuk mengambil gambar.

pantai wotgalih

jutaan bintang bertebaran

Cahyadi yang sedang tidur sampai terbangun akibat saya krasak-krusuk mencari kamera di dalam carier. Ia pun ikut keluar tenda setelah saya beri tahu bahwa langitnya sedang cantik. Sayangnya, baik saya maupun Cahyadi bukan orang yang paham soal fotografi (kamera DSLR yang kami bawa saja hasil pinjam dari seorang kawan), apalagi memotret malam berbintang. Tapi suatu hari saya pernah membaca artikel tentang teknik astrofotografi, memotret objek langit di malam hari. Untuk seorang amatiran, hasil jepretan saya memang jauh dari kata bagus. Namun, setidaknya kami dapat mengabadikan malam yang sangat luar biasa itu.

pantai wotgalih

planet venus bersinar terang

Tak lama kami berfoto, sebab indikator baterai berwarna merah, menandakan baterai sudah lowbatt. Kami menikmati sejenak langit malam itu sebelum kembali masuk ke tenda, melanjutkan tidur dan mimpi indah.

Memang benar, saya agak kecewa begitu tahu bahwa Pantai Wotgalih tutup. Namun ada hikmah dibalik semua itu. Ketika pada akhirnya kami memutuskan untuk bermalam, meski hanya berkemah di tempat parkir, ternyata kami disuguhkan malam yang sangat indah. Ditambah suasana alam yang sungguh damai. Alam sedang bersahabat, alam menyambut kami dengan senyuman.

pantai wotgalih

hangatnya pancaran matahari terbit

Paginya, kami kembali diberi kejutan oleh matahari terbit yang begitu cantik. Belum lagi Gunung Semeru dengan Puncak Mahamerunya terlihat dikejauhan. Menambah kesan kami pada Wotgalih semakin istimewa. Sayang, kami tak bisa berlama-lama, kami harus melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, Jember.

pantai wotgalih

ngopi dulu sebelum berangkat

pantai wotgalih

Gunung Semeru di kejauhan melambai

Share: