Menjajal rock climbing di Tebing Kilo Tiga, Minahasa

Setibanya di Desa Kilo TIga, kami masih harus trekking untuk menuju lokasi tebing. Tidak jauh, setelah 30 menit perjalanan akhirnya saya dapat melihat tebing yang menjulang setinggi -+ 90 meter. Tebing Kilo Tiga merupakan tebing alami yang unik. Berbeda dengan tebing pada umumnya, permukaan dinding tebing ini berbentuk seperti susunan balok-balok yang ditumpuk saling tindih. Tebing yang berada di Kecamtan Amurang, Minahasa Selatan ini dikenal sebagai surganya para pecinta olahraga panjat tebing. Sebab memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibanding tebing-tebing lain yang ada di Indonesia.

Bandara Soekarno Hatta, Tangerang

Jam menunjukkan pukul 3 dini hari ketika saya terbangun oleh alarm yang sebelumnya sengaja sudah saya sepagi itu. Mushala dipenuhi oleh puluhan orang yang memutuskan bermalam di bandara. Padahal tepat sebelum saya tidur, hanya ada segelintir orang (termasuk saya), jumlahnya tak sampai sepuluh. Setelah membasuh wajah, saya bergegas pergi begitu tahu kawan-kawan sudah berkumpul di ruang tunggu.

Sudah ada Bang Dewe (Ade Wahyudi) dan 5 peserta lain yang sudah berkumpul ketika saya nimbrung, tinggal Rico dan Alim yang belum hadir. Iya peserta. Saya dan 7 orang lainnya merupakan peserta yang lolos kontes menulis dengan tagline Super Journey to Bunaken. Kontes ini sendiri diadakan oleh Djarum Super Adventure, wajar saja jika jumlah pemenangnya hingga 8 orang. Enteng, selayaknya membagi-bagikan permen ke anak-anak.

bandara soekarno hatta
dari kiri: Alim, Detha, Rico, Aya, Ayu, Edy, Dena dan Ane

Dari 8 orang yang terpilih, 6 diantaranya berasal dari Jakarta. Mereka adalah Detha, Dena, Edy, Ayu, Aya dan Rico. Sedangkan satu orang dari Semarang, yaitu Alim. Serta saya sendiri yang ketika itu masih berdomisili di Malang. Bang Dewe yang sebelumnya saya sebut merupakan salah satu dari tim yang nantinya akan memandu kami selama 5 hari (4 – 8 Mei 2016) di Sulawesi Utara. Ia sendiri lebih memilih kata ‘teman jalan’ sebagai alias dari guide.

Tak lama kemudian 2 guest star yang diundang khusus untuk menemani perjalanan kami pun tiba di Bandara Soehat. Marischka Pruedence, seorang Travel Blogger dengan hobi diving yang telah menyelami berbagai taman bawah laut Indonesia. Serta pria bertatto yang jago masak (koki) yang sudah mengelilingi Indonesia untuk merasakan cita rasa masakan nusantara, dia adalah Rahung Nasution.

tiba di bandara sam ratulangi

Pesawat Garuda Indonesia terbang mengantarkan kami dari Jakarta ke Manado. Di Bandara Sam Ratulangi ada Bang Ian (Sofyan Arief Fesa), salah satu tim dari Indonesia Expeditions -operator perjalanan ke gunung-gunung di Indonesia maupun dunia- telah menunggu untuk menjemput kami. Djarum memang tidak sembarang pilih saat menentukan tim yang akan memandu kami selama berpetualang, mereka memilih yang terbaik! Selain Bang Dewe yang merupakan anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), ternyata Bang Ian adalah seorang seven summiters dunia pertama Indonesia dari Mahitala UNPAR. Luar biasa!

Menuju Desa Kilo Tiga, Amurang

Kami tidak langsung menuju Bunaken, melainkan pergi ke Desa Kilo Tiga, dimana kami akan melakukan kegiatan rock climbing di tebing yang sudah mencetak banyak climber handal, Tebing Kilo Tiga. Di perjalanan kami sempat merapat di salah satu restoran untuk makan siang. Kami dijamu dengan berbagai jenis masakan sea food dan sayur-sayuran serta dilengkapi sambal dabu-dabu, khasnya Kota Manado. Sambal ini disajikan secara segar, bahan-bahan seperti cabai, tomat, bawang merah diiris kecil-kecil untuk kemudian diaduk dan disiram oleh minyak goreng panas. Meskipun pedas, tapi tetap terasa segar.

tebing kilo tiga amurang
trekking ke lokasi tebing kilo tiga
tebing kilo tiga amurang
menuruni jalan menggunakan tali

Setibanya di Desa Kilo TIga, kami masih harus trekking untuk menuju lokasi tebing. Tidak jauh, setelah 30 menit perjalanan akhirnya saya dapat melihat tebing yang menjulang setinggi -+ 90 meter. Tebing Kilo Tiga merupakan tebing alami yang unik. Berbeda dengan tebing pada umumnya, permukaan dinding tebing ini berbentuk seperti susunan balok-balok yang ditumpuk saling tindih. Tebing yang berada di Kecamtan Amurang, Minahasa Selatan ini dikenal sebagai surganya para pecinta olahraga panjat tebing. Sebab memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibanding tebing-tebing lain yang ada di Indonesia.

Bang Egy, Bang Arlen, Bang Octries dan teman-teman dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Manado sudah menanti kedatangan kami. Mereka telah menyiapkan peralatan panjat tebing serta tenda-tenda yang sudah berdiri sebagai tempat bermalam kami semua. Meskipun hari sudah sore, kami masih semangat untuk menjajal Tebing Kilo Tiga. Bang Ian mendapat giliran pertama sekaligus memberikan demo pada kami semua. Dia terlihat sangat lihai ketika memanjat. Pijakan demi pijakan dia lewati dengan pasti, dalam hitungan detik dia sudah naik beberapa meter. Hal ini tentu membuktikan bahwa dia sudah sangat berpengalaman.

tebing kilo tiga amurang
Bang Ian sedang beraksi

Menjajal rock climbing di Tebing Kilo Tiga

Kemudian kami silih berganti mendapat giliran. Setelah Detha, Kak Prue dan Edy menjajal tebing yang punya kemiringan lebih dari 90 derajat tersebut, tibalah giliran saya. Bagi saya ini adalah pengalaman pertama memanjat di tebing ‘sungguhan’. Sebelumnya saya memang pernah beberapa kali mencoba climbing, tetapi di tebing bohongan alias wall climbing. Papan panjat yang biasa digunakan latihan oleh SISPALA maupun MAPALA di kampus. Hanya sebatas itu. Dan itu pun saya lakukan dengan susah payah. Apalagi di tebing betulan?

Sebelum memanjat saya sudah memakai harness (alat pengaman yang dipasang pada tubuh) dan safety helmet. Harness dihubungkan menggunakan carabiner dan descender pada tali kernmantel yang sudah terpasang pada tebing. Lalu ada chalk bag untuk menyimpan magnesium karbonat yang berguna untuk menghilangkan keringat di telapak tangan supaya tidak licin ketika menggenggam tebing. Satu lagi, ada sepatu panjat. Namun karena saya termasuk kategori ‘big foot’, sehingga tidak ada sepatu yang muat di kaki. Saya mau tidak mau terpaksa nyeker.

tebing kilo tiga amurang
saran saya jangan pernah nyeker, sakit. permukaan tebingnya tajam

Dalam olahraga climbing, selain climber, ada satu orang lagi yang berperan dalam kelancaran dan keselamatan si pemanjat. Ia disebut sebagai belayer yang bertugas menahan beban si climber. Jadi ketika sedang memanjat tiba-tiba terpleset atau genggaman pada tebing terlepas, jangan khawatir karena ada belayer yang akan menahan. Sehingga climber tidak akan langsung meluncur jatuh. Apalagi jika safety procedure-nya sudah lengkap. InshaAllah aman. Akan tetapi belayer ini tidak diperlukan dalam free climbing, sebab climber tidak mengenakan peralatan safety a.k.a buat yang jago-jago saja.

tebing kilo tiga amurang
bang rahung sedang memotret bang octries yang sedang free climbing

Saya memanjat di jalur yang sama seperti kawan-kawan sebelumnya. Tidak seperti kelihatannya, dalam panjat tebing membutuhkan kejelian yang tinggi untuk menemukan genggaman tangan dan/atau pijakan kaki. Bagi yang pertama kali mencoba, seperti saya sendiri, pasti dibuat bingung saat harus mencari dan menentukan mana pijakan yang baik. Meski lama-kelamaan akan terbiasa, tapi tetap saja rasanya sulit.

Pijakan demi pijakan saya lewati hingga berhasil naik hingga beberapa meter. Lalu saya sampai di bagian tebing menggantung yang bersudut 180 derajat atau disebut roof. Pada titik itu, kaki dan tangan saya gemetaran akibat terlalu lama menahan beban tubuh sendiri. Selain itu, saya juga bingung karena entah kemana lagi tangan harus mencari genggaman. Meski dari bawah terus disemangati dan diberi arahan seperti “kaki kiri naik ke pijakan itu” atau “tangan kanan pegangan di celah-celah dekat kepala” oleh Bang Ian dan Bang Arlen. Namun tetap saja saya tidak tahu mana pijakan/pegangan yang mereka maksud. Bagi seorang expert seperti mereka, mungkin celah-celah sempit di antara dinding tebing sudah cukup untuk dijadikan genggaman. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi saya. Huhu..

Ketika berusaha melewati bagian tebing yang meggantung, kaki saya yang sudah tremor bukan kepalang, terlepas dari pijakan. Pada detik itu beban tubuh bertumpu seluruhnya pada genggaman tangan, satu-satunya harapan supaya tidak terjatuh. Namun, karena tangan saya sudah lemas akibat terlalu lama menggantung, otomatis tangan saya refleks melepaskan genggaman pada tebing dan membuat saya seketika jatuh. Jatuh dan bergelantungan pada seutas tali kermantel yang ditahan oleh Bang Octries sebagai belayer. Ah, terima kasih, bang!

tebing kilo tiga amurang
sudah lemas, mending jatuh saja

Panjat tebing memang bukan sekedar memerlukan niat dan nyali, tapi butuh teknik yang harus diasah secara terus-menerus kalau ingin handal seperti teman-teman dari Indonesia Expeditions atau FPTI. Dan satu lagi yang paling penting, butuh tenaga! Oleh karena itu tubuh wajib diisi oleh asupan makanan yang bergizi dan enak. Untungnya ada Bang Rahung, koki andalan kami yang memanjakan lidah dengan menu makan malam ayam bakar yang dilumuri bumbu 3 pulau nusantara (Manado, Jawa dan Batak). Malamnya kami tutup dengan duduk-duduk mengitari api unggun sembari bernyanyi bersama dan meneguk ‘cap tikus’ khas Manado. Nikmat!

Belajar teknik Ascending dan Descending

Esok harinya setelah mengunyah habis sepotong sandwich, saya kembali memanjat Tebing Kilo Tiga. Namun kali ini dengan jalur yang berbeda, jalur yang bisa dibilang lebih mudah. Kalau kata Bang Arlen, itu adalah ‘jalur cewek’, sebab jalur tersebut adalah yang paling mudah diantara yang lain. Untuk jalur-jalurnya sendiri, Tebing Kilo Tiga ini punya penamaan yang unik. Selain jalur cewek, ada Jalur Malaria yang dinamai ketika para pemanjat terserang penyakit malaria. Jalur Tragedi, dinamakan begitu sebab ketika memanjat jalur ini, ada beberapa pemanjat yang hanyut terbawa banjir oleh luapan sungai Ranoyapo. Hingga Jalur Ratapan yang ditasbihkan sebagai jalur paling sulit, karena pemanjat benar-benar diuji dan harus mengerahkan seluruh kemampuannya.

Sedangkan di sisi tebing lainnya, kami juga mencoba sebuah Teknik bernama ascending dan descending, yaitu teknik menaiki dan menuruni seutas tali menggunakan alat yang disebut ascender dan descender. Banyak implentasi dari teknik ini, seperti Single Rope Technique (SRT) untuk naik–turun di goa vertikal, rappelling (menuruni tebing) hingga canyoning (menuruni air terjun). Kami belajar teknik ini karena rencananya pada hari ke-3 kami akan melakukan canyoning.

tebing kilo tiga amurang
kak prue sedang mencoba SRT

Pada teknik ascending menggunakan alat bernama ascender atau jumar. Ascender ini berfungsi untuk naik dan menahan beban tubuh dengan menjepit tali kernmantel. Sedangkan descender menggunakan alat bernama descender atau figure of eight. Kebalikan dari jumar, fungsinya untuk turun secara perlahan pada tali. Bagi saya pribadi kedua teknik ini sudah tidak asing ditelinga, sebab sebelumnya saya pernah melakukan caving di goa vertikal yang tentunya membutuhkan kemampuan menguasai teknik tersebut. Tetapi di sini saya belajar dari awal lagi. Lupa, karena sudah lewat bertahun-tahun lamanya sejak terakhir kali saya menyusuri goa.

Matahari naik semakin tinggi ketika kami semua telah mendapatkan giliran. Kemudian kami kembali ke lokasi camp untuk mengemasi barang-barang. Desa Timbukar menjadi tujuan kami berikutnya. Di sana kami akan melakukan olahraga yang tidak kalah seru dari rock climbing. Yaitu rafting alias arung jeram di Sungai Nimanga.

Oh iya, berikut ada video saat Bang Octries dari FPTI Manado sedang beraksi memanjat Tebing Kilo Tiga layaknya Spiderman. Serius, dia jago banget! (video by Marischa Pruedence)

Share: