Scuba diving di kedalaman laut Bunaken

Setelah tiga hari berkeliling Sulawesi Utara; dimulai dari rock climbing di Tebing Kilo Tiga (Minahasa), rafting di Sungai Nimanga (Minahasa), mendaki Gunung Mahawu (Tomohon), mengunjungi Pasar Extreme (Tomohon) serta tersesat di salah satu mall di Manado, akhirnya kami tiba di Bunaken yang sekaligus mengakhiri rangkaian acara Super Journey to Bunaken yang diselenggarakan oleh Djarum Super Adventure. Selama 2 hari 1 malam, kami melakukan berbagai aktivitas macam scuba diving, snorkeling hingga santai di pantai.

Berangkat ke Bunaken

Dari resort, kami pergi ke salah satu spot diving bernama Alungbanua. Sebuah spot yang bisa dibilang bukan keindahan bawah laut Bunaken yang sesungguhnya. Karena spot tersebut biasa digunakan untuk para penyelam pemula yang baru pertama kali mencoba diving. Struktur terumbu karang di sana tidak terlalu rapat, bahkan sebagian besar dasarnya pasir. Jadi tidak terlalu khawatir bakal menyenggol atau menendang terumbu karangnya.

diving bunaken
otw bunakeeen

Sebenarnya untuk melakukan olahraga scuba diving dibutuhkan license. Tapi karena sebagian besar belum punya, ada sebuah cara untuk menyelami keindahan bawah laut. Namanya discovery diving. Dimana instruktur atau dive master akan mengawasi kami dengan ketat. Pemilihan spot yang aman juga menjadi prioritas utama.

Seluruh perlengkapan menyelam sudah siap. Mulai dari wetsuit, masker, fin, tabung oksigen, BCD serta alat lainnya dalam kondisi baik dan aman untuk digunakan. Sebelum nyemplung ke laut, kami diberi arahan oleh dive master tentang kegunaan tiap alat dan bagaimana cara menggunakannya. Juga kode-kode tangan yang digunakan sebagai isyarat pada saat menyelam, karena ketika di bawah laut tidak bisa mengobrol selayaknya di darat, ya.

diving bunaken
udah pada pakai wetsuit nih

Kak Prue juga memberitahu cara melakukan equalize. Sebuah cara untuk menyamakan tekanan pada telinga. Sebab semakin dalam menyelam, tekanan air laut akan semakin kuat dan itu membuat telinga menjadi sakit. Caranya yaitu seperti membuang ingus tetapi sambil mencubit kedua lubang hidung. Equalize ini sangat penting, karena kalau memaksakan menyelam dengan kondisi telinga sakit tanpa melakukan equalize, bisa menyebabkan telinga sakit berkepanjangan.

briefing dulu dari dive master

Waktunya menyelami bawah laut Bunaken

Setelah mendapat arahan, satu per satu dari kami menceburkan diri ke laut. Giliran saya pun tiba, jantung saya berdebar-debar. Begitu nyemplung, saya langsung menarik nafas dari regulator. Meski awalnya agak panik, saya bisa bernafas dengan stabil setelah beberapa saat membiasakan. Ketika mengalihkan pandangan ke bawah, yang lain sudah menyelam lebih dalam lagi. Sebagian masih kesulitan untuk turun lebih dalam, termasuk saya. Malahan saya masih berkutat di permukaan. Untuk bisa tenggelam, harus melakukan deflate dengan menekan tombol deflator. Yaitu untuk mengeluarkan udara pada pelampung BCD, sehingga bisa tenggelam. Pada prosesnya saya berhasil turun sampai ke dasar berkat dipandu oleh salah satu dive master. Namun saat ditinggal dive master, saya mengapung lagi ke permukaan. Padahal sudah pakai pemberat segala, tapi tetap saja nggak bisa tenggelam.

diving bunaken
masih pada ngapung di permukaan

Semakin lama saya semakin terbiasa meskipun kadang masih lupa harus bernafas dari mulut (bukan hidung). Mempertahankan posisi stabil di kedalaman tertentu juga hal yang sulit. Ketika ingin menyelam lebih dalam, badan saya justru terangkat naik ke atas. Kebanyakan dari kami juga masih belum bisa mengontrol posisi di bawah air. Hingga kami kadang saling bertubrukan. Kadang ketendang kaki orang, kejedot tabung oksigen orang. Dan yang paling parah, kepala saya kejedot kapal saat hendak naik ke permukaan. Huft. Mungkin karena pada dasarnya saya tak bisa berenang, jadinya malah kesusahan.

diving bunaken
Bang Ian lagi ngintip ikan
diving bunaken
berusaha tenggelam, masih membiasakan dulu

Dasar laut tepat di bawah kapal berhenti hanya sekitar 3 – 4 meter. Tapi kalau lebih jauh lagi, ada sebuah palung yang semakin jauh semakin dalam. Warna air yang sebelumnya berwarna biru bening, kalau menyelam ke dalam palung akan semakin gelap. Saya sempat menyelam sampai kedalaman 9 meter. Ternyata semakin dalam, aneka terumbu karang dan ikan semakin beragam. Sayangnya, saya kurang bisa menikmati pemandangan di bawah laut, telinga saya terasa sakit sekali. Karena capek melakukan equalize terus-menerus, saya memutuskan untuk naik ke permukaan. Telinga masih terasa mendengung ketika menginjakkan kaki di atas kapal. Untung saya segera naik, kalau tidak gendang telinga saya mungkin sudah kenapa-kenapa.

diving bunaken
menyelam lebih ke dalam lagi

Itu adalah pengalaman pertama kali scuba diving bagi saya dan langsung menyelam ke Laut Bunaken. Sungguh luar biasa. Rasanya saya ingin mencobanya lagi lain waktu. Ternyata scuba diving bikin nagih, sama seperti mendaki gunung.

Setelah semua naik ke kapal, kami kembali ke resort berbarengan dengan matahari yang kembali ke peraduannya. Senja. Indah sekali. Rasanya ingin waktu berjalan lebih lambat dari biasanya. Malamnya kami makan malam dengan masakan Chef Rahung yang luar biasa lezat. Malam terakhir itu terasa Panjang. Kami duduk membentuk lingkaran, membicarakan obrolan random dan bernyanyi bersama. Tidak terasa ketika waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, kami pun mulai tumbang satu per satu.

Snorkeling di pantai tak jauh dari resort

Esoknya, dengan bermodalkan masker, snorkel dan fin kami mulai berjalan ke arah laut menuju spot snorkeling. Awalnya ragu, pikir saya akan tenggelam karena tak menggunakan pelampung. Namun dengan bantuan fin, ternyata saya bisa mengambang di permukaan. Juga tidak perlu mengeluarkan power yang besar saat berenang. Ajaib. Padahal di kolam renang saja tak bisa mengapung.

diving bunaken
saat snorkeling justru terumbu karangnya lebih banyak

Awalnya saya hanya berani di daerah yang dangkal, daerah dimana kaki saya masih bisa berpijak di dasar laut. Tapi semakin jauh dan semakin dalam varietas biota bawah laut semakin cantik dan berwarna. Melihat yang lain berenang ke daerah yang dalam. Saya pun memberanikan diri. Dan.. berhasil! Meski agak khawatir kalau tiba-tiba saya tenggelam dan tidak bisa kembali naik ke permukaan. Tapi rasa takut itu tergusur oleh rasa penasaran saya pada keindahan bawah laut yang sangat eksotis itu.

diving bunaken
apakah dia temannya nemo dan dory?

Sekitar 1 jam snorkeling, kami terpaksa kembali ke resort karena harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat. 60 menit terasa kurang bagi saya untuk menikmati bawah lautnya. Keindahan taman laut Bunaken seolah membius saya, memberi candu terhadap kegiatan di laut. Seperti scuba diving dan snorkeling yang bahkan tidak pernah terpikirkan di kepala saya sebelumnya. Tidak ada keinginan untuk menikmati panorama bawah laut. Namun kini setelah menyaksikan secara langsung cantiknya bawah laut Bunaken, ada keinginan untuk melihat laut-laut lainnya. Apalagi negara kita adalah negara kepulauan yang tentunya sebagian besar adalah laut.

Perjalanan berakhir, waktunya pulang

Setelah membersihkan diri di resort, kami mampir ke Kota Manado untuk makan siang dan membeli oleh-oleh. Kemudian kami menuju Bandara Sam Ratulangi. Jadwal pesawat saya berbeda dengan yang lain. Sebab saya langsung pulang ke Surabaya, sedangkan rombongan tetap ke Jakarta. Tepat pukul 5 sore, setelah berpamitan dengan semuanya saya buru-buru check in. Dan ternyata pesawat lion air yang akan saya tumpangi itu delay selama 1 jam. Alhasil jadwal keberangkatan saya hampir berbarengan dengan jadwal teman-teman. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk berangkat bareng, pulang pun harus bareng. Makanya jadwal pesawat saya jadi delay. Jam 18.10 saya kembali pamit dengan semuanya. Dan kali itu pesawat saya benar-benar berangkat dan terbang meninggalkan Manado.

Sungguh 5 hari yang sangat berkesan. Teman baru, pengalaman baru, perjalanan singkat bersama orang-orang hebat ini tidak akan saya lupakan. Rasanya saya ingin lebih lama lagi melakukan petualangan bersama mereka. Kalau diberi kesempatan, tentu saya ingin bertemu mereka lagi, bertualang bersama, berbincang dan bersenda gurau dengan duduk membentuk lingkaran sambil makan malam (masakannya Bang Rahung tentunya) di pinggir pantai seperti yang kami lakukan di Bunaken. Dan tidak lupa dengan CT (cap tikus) sebagai pelengkap. Hehe.

Terima kasih semuanya, semoga kita bisa berjumpa kembali!

diving bunaken
terima kasih super adventure

Berikut video saat kami scuba diving di Alungbanua. (video by Marischka Pruedence)

Share: