Teguran dari ‘penghuni’ Taman Hidup, Dewi Rengganis

Adzan ashar baru saja lepas ke angkasa, ketika saya dan Yogi tiba di Polsek Krucil. Kantor polisi tersebut sepi. Tak ada jawaban saat kami mengucap salam. Pun ketika kami mencoba masuk ke lobi, tidak ada siapa-siapa di dalam. 10 menit menunggu, akhirnya seorang polisi datang. Kami pun mengutarakan maksud tujuan kami untuk mendaki Gunung Argopuro.

Gagal mendaki ke Argopuro

Oleh pak polisi kami diarahkan untuk melakukan registrasi di rumah salah satu pengelola basecamp Bermi pendakian Gunung Argopuro. Baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, kami diberi tahu oleh istri dari Pak Arifin (pengelola) bahwa pendakian untuk sementara ditutup. Saya dan Yogi saling bertatapan dan mengerenyitkan dahi. Heran, karena sebelumnya tidak ada informasi jika pendakian ke Gunung Argopuro ditutup. Usut punya usut, ternyata baru terjadi kebakaran hutan pada dini harinya, sehingga mungkin belum terdengar ke media. Menurut penuturan si ibu, kebakaran hutan terjadi akibat faktor alam, karena suhu musim kemarau yang sangat panas.

Pada detik itu ada rasa kecewa sekaligus lega dalam diri saya. Kecewa lantaran telah menempuh perjalanan jauh ke Bermi, tetapi pendakian ditutup. Dan entah kenapa ada rasa lega, mungkin karena saya merasa diri ini belum siap untuk mendaki. Seakan belum percaya dengan apa yang baru saya dengar, saya tidak segera beranjak dari sana. Di sebuah meja, saya melihat sebuah buku, buku yang tertera daftar orang yang mendaki ke Argopuro. Baris demi baris saya baca dengan teliti. Di lembar terakhir yang terisi, saya menemukan satu rombongan yang mendaki di tanggal yang sama dengan kedatangan kami saat itu.

telaga taman hidup

telaga taman hidup

“Bu, kok ini ada yang naik ya? Tanggalnya tanggal hari ini?” tanya saya sambil menunjuk daftar pendaki pada buku.

“Oalah kalau mereka cuma naik sampai telaga mas. Nggak ke puncak,” jawab istrinya Pak Arifin.

“Kalau gitu kami juga bisa naik ke telaga?” saya memastikan dengan penuh harapan.

“Bisa mas. InshaAllah aman, soalnya titik kebakaran agak jauh dari telaga. Bapak juga sedang melihat kondisi kebakarannya” jelasnya lagi.

Tak ingin perjalanan jauh Malang – Bermi menjadi sia-sia, kami memutuskan untuk mendaki sampai Telaga Taman Hidup. Setelah menulis nama, asal dan nomor telepon di buku daftar pendaki, kami membayar tiket masuk “seikhlasnya”. Pada saat itu belum ada nominal pasti berapa harga simaksi, sehingga hanya dipungut biaya berapa pun itu untuk sekedar keperluan administrasi.

Perjalanan ke Taman Hidup

Perjalanan dimulai dengan melewati pemukiman yang berlanjut dengan menyusuri ladang milik penduduk setempat. Kami juga sempat melihat remaja-remaja yang sedang memancing di kolam yang cukup besar, berpapasan dengan warga yang membawa turun hasil taninya hingga bertemu seorang bapak yang masih beraktivitas di ladang pada sore hari itu.

Tak lama kemudian area persawahan pun berganti, kami mulai memasuki hutan. Vegetasinya cukup rapat. Pohon-pohon tinggi menjulang hingga hanya menyisakan celah-celah sempit untuk melihat langit. Alunan melodi dari suara tonggeret yang saling bersahutan mengiringi pendakian kami. Hanya ada kami berdua di tengah hutan, di hari yang mulai menggelap.

telaga taman hidup

gardu selamat datang

Kala itu memang hanya ada 2 rombongan yang mendaki. satu rombongan yang berangkat di pagi hari, berjumlah 8 orang. Dan satunya lagi adalah kami, saya dan Yogi, yang rasanya tidak bisa disebut rombongan. Pendakian pada hari itu sepi. Kemungkinan besar karena kami mendaki di hari kerja, sehingga hanya orang-orang pengangguran seperti kami yang mendaki.

Langit sudah berubah menjadi hitam, cahaya rembulan tak dapat menembus rapatnya vegetasi hutan. Pandangan kami hanya sejauh dan selebar cahaya headlamp. Selain suara tonggeret, hanya suara langkah kaki, nafas yang terengah-engah dan obrolan untuk sekedar mengisi keheningan malam. Hutan begitu senyap.

Kelelahan, terpaksa bermalam di jalur pendakian

Baru 2 jam perjalanan, tapi tubuh saya seolah meminta untuk istirahat. Menurut penuturan pak polisi ketika berbincang di polsek, butuh 4 jam perjalanan dari desa ke telaga. Masih 2 jam perjalanan lagi yang harus ditempuh. Sedangkan saya sudah sangat lelah, begitu pun dengan Yogi. Tak ingin memaksakan kondisi, kami memutuskan mendirikan camp di sebuah tanah datar tepat di samping jalur pendakian.

Setelah tenda berdiri, saya merebahkan badan di dalam. Meski posisi tanah yang agak miring dan berbatu, jauh dari kata nyaman, namun rasanya nikmat sekali. Memang, ketika sedang mendaki, tidur akan terasa lebih nikmat dari biasanya. Tidur, sebuah bentuk apresiasi bagi tubuh karena telah menempuh perjalanan yang melelahkan.

telaga taman hidup

buka tenda tepat di samping jalur

Akhirnya.. Telaga Taman Hidup!

Esoknya saya terbangun oleh sinar mentari yang menembus rapatnya celah-celah vegetasi. Kemudian kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Pagi itu cukup cerah, saya merasa begitu segar, sangat bersemangat. Perjalanan 2 jam pun tak terasa meski medan semakin menanjak. Setelah melewati tanjakan yang seolah tak ada habisnya, tiba-tiba saja kami menemukan jalan yang menurun. Dan tak jauh dari situ… Telaga Taman Hidup! Bak sebuah oase di padang pasir, perbedaannya adalah ini sebuah telaga di tengah hutan belantara. Saya dan Yogi setengah berlari menghamburkan diri ke arah telaga.

Berbeda dengan Ranu Kumbolo atau Danau Segara Anak yang berada di area terbuka, Telaga Taman Hidup dikelilingi oleh hutan yang sangat lebat. Tersembunyi. Saking tak terlihatnya, jika kami tak melihat tanda yang menunjukkan arah telaga saat di persimpangan, mungkin kami sudah berjalan menuju ke arah puncak argopuro.

Suasana telaga sangat hening. Lokasi yang tepat untuk menemukan kedamaian. Saya jadi teringat mitos yang beredar di Telaga Taman Hidup. Mitos tersebut menyebutkan jangan membuat kegaduhan di kawasan telaga, sebab akan mengundang kemarahan Dewi Rengganis. Konon, jika sang dewi marah, akan ditandai dengan turunnya kabut dan terjadi hujan badai. Mungkin karena hal tersebut pula, telaga ini dikenal sunyi dan tenang, sebab tidak ada yang berani membuat suara bising.

telaga taman hidup

matahari cukup terik saat kami tiba

Saat kami tiba di telaga, rombongan yang mendaki sebelum kami sedang bersiap-siap untuk turun. Setelah berbincang sebentar, ternyata mereka kuliah di kampus yang sama dengan saya. Hanya saja berbeda fakultas, mereka dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP). Lalu berbeda dengan kami yang ingin ke Puncak Argopuro, mereka sejak awal memang hanya bertujuan untuk berkemah di telaga.

Dewi Rengganis merasa terusik?

Ketika kami sedang memandangi telaga dari dermaga, tiba-tiba saja beberapa orang dari rombongan FTP berteriak sesaat sebelum meninggalkan telaga. Entah disengaja atau memang tidak tahu-menahu soal mitos di Telaga Taman Hidup, akibat perbuatannya itu sukses membuat saya harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

Tak berapa lama kabut turun menyelimuti seluruh kawasan telaga, bahkan telaganya sampai tertutupi, saking tebalnya kabut. Khawatir akan benar-benar terjadi badai, kami bergegas mendirikan tenda. Jaga-jaga apabila kemungkinan buruk terjadi, kami dapat berlindung di dalam tenda.

telaga taman hidup

dan… seketika turun kabut

Sambil memasak bahan makanan untuk mengisi tenaga di perjalanan pulang, hujan ternyata tidak turun. Malah setelah selesai sarapan, kabut mulai menipis. Berkat kabut yang semakin tipis, telaga kembali nampak. Begitu pun dengan langit, namun yang kami dapati adalah awan mendung yang menggantung di langit. Kami memutuskan untuk segera turun.

Di perjalanan pulang, setelah satu jam lebih meninggalkan telaga, hujan turun sangat deras. Badai. Untungnya kami sudah dekat dengan pemukiman, sehingga tidak terguyur hujan saat masih di telaga. Sesaat saya berpikir, dengan hujan seperti ini mungkin saja dapat memadamkan kebakaran hutan. Dan jika kebakaran padam, pendakian akan dibuka kembali. Namun dengan kondisi kami yang seperti ini, rasanya keputusan untuk turun adalah yang terbaik. Toh, Argopuro tidak kemana-mana. Mungkin Dewi Rengganis ingin kami kembali lagi ke sana suatu hari nanti.

*   *   *

Berbicara soal mitos, khususnya di gunung, sudah dua kali saya mengalaminya. Pertama di Gunung Semeru, dan kedua di Telaga Taman Hidup. Percaya tidak percaya memang dengan kebenaran suatu mitos. Hal itu kembali ke diri masing-masing. Namun yang pasti, meski tidak percaya, alangkah baiknya tetap menghormati kepercayaan setempat. Apalagi datang sebagai tamu, sudah sepatutnya berperilaku sopan dan tidak bertindak bertentangan dengan adat yang ada. [ms]

telaga taman hidup

mendung

Share: